11/08/17

Titik (.)



“Ya Rabb, mengapa harus aku yang dipertemukan dengan dia? adakah cara yang tak lebih menyakitkan dari ini semua. Ketika aku benar-benar mencintainya, ketika itu pula aku harus dipaksa untuk melupakannya.”

Lupakan dia. Kemudian jadilah dirimu sebagaimana kamu merasakan kehidupan jauh sebelum mengenalnya. Kamu terlahir kembali, menjadi jiwa yang baru dengan semangat yang baru. Kata semangat mungkin terlalu naif bagi kamu, orang yang kini tengah merasakan luka sedalam-dalamnya. Namun begitulah caranya. Tak ada lagi siasat terbaik, selain kamu sendiri yang memulainya. Kamu memulai kehidupan baru, kemudian kamu memulai untuk bisa menyesuaikan diri dari hari ke hari. Tanpanya. Tanpa dirinya.

Adakah yang abadi di dunia ini?

Tak ada. Yang harus sama-sama kita tahu, Tuhan sedang mengajarkan kita dua sisi kehidupan yang harus tetap dijadikan pelajaran. Kamu merasakan indahnya pertemuan, maka suatu ketika kamu harus merasakan pedihnya kehilangan. Cepat atau lambat, semua akan kamu rasakan. Bahkan setiap manusia selalu lahir dengan ditemani oleh berbagai cobaan dan ujian. Bedanya, setiap kita punya cara unik masing-masing untuk bisa dekat dengan mereka.

Kenalilah lebih dekat. Termasuk mengenali lebih dekat dirimu sendiri.

Awalnya kita berserah. Lalu kita merasa menjadi orang paling tak berguna. Kemudian kita tak punya lagi semangat untuk hidup dan menjalani kehidupan. Kita depresi pada tingkatan paling fanatik. Kita putus asa. Kita merasa kehilangan semuanya.

Apakah itu menyelesaikan?

Tidak. Putus asa menjadikanmu tiada. Tepatnya, ada namun tiada berarti apa-apa. Baiknya, kamu segera bangkit dari segala yang membuat sakit. Kamu harus segera menerima kenyataan dari berbagai kejadian yang menimpamu barusan. Hidupmu tak boleh berhenti sekalipun kamu tak ditakdirkan untuk bisa bersamanya lagi.

 Ikhlaskanlah. Tuhan sedang membuatkan satu rencana terbaik buatmu. 

----------------------------------------------
Naskah yang akan dimunculkan dalam buku Titik Kritis. Insyaallah. mohon doanya teman-temanku semuanya. Terima kasih..


Belanda, Agustus 2017
-Ikrom Mustofa-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...