07/07/18

Dalam "Menua Bersamamu"

Sebuah Puisi, Untuk pernikahan sahabat Sigit Eko Januar & Rafika Shofidaliana


Dengan lafaz basmalah disambut sapuan angin-angin desa
Seraya kutadahkan tangan dalam dekapan doa-doa
Bertabur santunnya bahasa yang termaktub dalam janji-janji
Bermetamorfosa pada ikatan-ikatan penuh arti
Dalam tawa bahagia namun tetap syahdu
Dalam senyuman dua perasaan saling padu
Dalam ingatan untuk saling mencipta asa
“Esok, lusa, dan hari-hari selanjutnya ialah kita berdua.”

Dengan satu napas rangkaian kalimat akad
Kita melangit dalam harapan-harapan
Kemudian membumi dalam kesetiaan
Kita meninggi dalam kebaikan-kebaikan
Kemudian merendah dalam kesederhanaan
Kita hiperbola untuk saling bertukar pujian
Kemudian kita hilangkan segala keangkuhan

Dengan genggaman tanganmu yang kemudian kini dapat kudekap erat-erat
Kita rangkai mimpi 
Kita semai Kebaikan nan abadi

Dengan disaksikan puluhan bahkan ratusan pasang mata
Kita berjalan pada apa-apa yang belum pernah kita lakukan
Hal-hal baru yang membuatmu baru
Membuatku baru
Rumah baru itu bukan sekadar bangunan berpondasi dan berjendela baru
Namun hati dan perasaan kita
Yang mengikhlaskan apa-apa yang sudah
Yang merelakan segala yang pernah

Terima kasih
Atas hari yang kemudian kita menyebutnya sejarah
Bahwa hari esok adalah dua doa
Dua kebahagiaan
Dua keterasingan yang kini menemui dunianya
Ialah kita, hati kita, perasaan kita
Dan segala yang ada dalam diri kita

Terimalah
Sebab kamu tak perlu mengerti aku sepenuhnya
Menerima ialah melegakan
Untuk masa depan yang akan selalu jadi hari-hari paling berkesan



Belanda, Juli 2018.
-Ikrom Mustofa-

23/06/18

Mari Berkontemplasi


Untuk saat ini, kuasaku hanyalah pada keinginan untuk belajar tentang arti keikhlasan. Banyak orang dengan mudahnya mengatakan dirinya “ikhlas”, namun hatinya menolak. Hatinya berseberangan dengan perkataan yang barusan mereka bebaskan. Aku yakin bahwa bukan itu ikhlas yang dimaksud. Bahkan aku sendiri belum begitu paham tentang makna ikhlas yang ikhlas. Aku hanya melakukan. Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan.
Berhenti. Bagaimana rasanya mengubah langkahmu yang telah sebegitu jauh untuk memutuskan memutar arah? Bagaimana rasanya bila kamu harus berhenti di titik di mana kamu tak tahu banyak tentang kondisi di sekelilingmu? Bagaimana jika pada titik ini teman perjalananmu memutuskan untuk meninggalkanmu? Padahal masih ada puluhan ribu langkah yang harus kalian tempuh untuk menuju titik yang sama-sama kalian inginkan?
Dia pergi. Sosok terbaik itu harus pergi saat ini. Dan kamu?
Baiklah. Sekarang kita sama-sama bermuara. Nahkoda itu memutuskan untuk menepikan kapalnya masing-masing. Namun sayangnya kita tak berlabuh pada kota yang sama, kita tak berada pada tanah yang sama, tepatnya kita saat ini benar-benar berseberangan. 
Ya, kamu menepi di sana, mungkin selamanya. Dan kuharap kamu akan selalu baik-baik saja. Kamu telah memutuskan terlebih dahulu untuk tak lagi berada dalam lingkaran yang telah kita cipta. Kamu mungkin akan menemukan seorang terbaik untukmu. Kamu temukan hari baru yang akan membuatmu merasakan suka duka menjadi orang baru. 
Buatmu. Kalaupun kamu sedang sedih saat ini, akan ada seseorang yang menenangkanmu. Memapahmu dalam langkah dari kondisimu yang tak mampu berjalan menjauhi kesedihan. Kalaupun kamu sedang menyesal saat ini, akan ada dia yang berbaik hati padamu. membawakanmu senyum semangat hingga kamu benar-benar melupakan penyesalan yang berkepanjangan. 
Aku. Ya, aku berusaha untuk bahagia. Ketika melihatmu bahagia. Tetaplah berjuang. Di kehidupan barumu. Tak akan aku campuri urusanmu, apalagi sampai kuganggu. Sekarang hanya ada kamu yang semakin pergi, dan aku yang harus semakin rela bahwa kamu tak akan pernah kembali ke sini. Ke semenanjung hati ini.
Ya. Aku siap patah hati.

-Ikrom Mustofa-

20/05/18

Jatuh Cinta


Kadang, jatuh cinta tak terletak pada persoalan kamu yang terpesona dengan segala yang ada pada dirinya pada pandangan pertama, namun ada pada perjalananmu yang kemudian terus-menerus membiasakan diri dengannya. Pertemuan pertama adalah bagian dari perkenalan yang teramat biasa. Tak ada drama. Tak ada cerita menarik yang kemudian membuatmu akan selalu mengingatnya. Hanya saja, takdir yang kemudian membawamu pada pertemuan-pertemuan selanjutnya dengannya. Kemudian diam-diam kalian saling suka. Saling tertarik satu dengan lainnya. Kadang, jatuh cinta adalah satu garis lurus kronologi yang tak dapat kamu hilangkan salah satu momennya. Setiap waktu ialah penyumbang perasaan yang kemudian terakumulasi pada satu kesempatanmu mengungkapkan isi hatimu padanya.

“Maukah kamu jadi bagian dari hidupku?”

Atau malah kamu memilih untuk membiarkan perasaan itu tumbuh sesukanya. Kamu hanya berharap bahwa suatu saat nanti, perasaan yang tengah kamu tanggung akan hilang dengan sendirinya. Sebab kamu khawatir, Ia bahkan tak pernah memiliki perasaan yang sama denganmu. Di sisi lain kamu juga yakin bahwa jatuh cinta tak melulu harus mendapatkan dirinya. Cukup memendamnya saja.

Karena yang perlu sama-sama kita tahu, setiap orang selalu punya cara masing-masing untuk menghadiahi dirinya saat jatuh cinta, entah harus mengungkapkan, atau terpaksa harus meredamnya dalam-dalam. 


Belanda, 20 Mei 2018
-Ikrom Mustofa-

07/05/18

Mari Bertemu dalam Buku-buku


“Semakin aku jauh, semakin aku tahu bahwa kamu adalah satu terbaik yang harus terus kuperjuangkan”


Belajarlah dari lokomotif dan segala keteguhannya. Ia mengenal peron stasiun, tempat beribu kenangan tercipta, tempat jutaan manusia menitikkan air matanya atau yang berberat hati melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal pada sosok terkasihnya. Kemudian ia harus mengenal arti menjauh. Melepas ikatan-ikatan perasaan, membiarkannya berjibaku dengan air mata dan segala luka-luka. Ia memutuskan diri menjadi lokomotif yang tegar berjalan pada jalurnya. Ia percaya diri bahwa suatu ketika jalur itu akan kembali pada peron yang sama, bertemu setelah sekian lama merindu. Ia yakin pada itu semua. Dan ia hanya berupaya untuk tetap berada pada apa-apa yang harus ia jalani. 

Belajarlah dari angin. Ia mengenalmu satu-persatu. Menyapa lembut tepat di hadapanmu. Namun ia memilih sembunyi. Bahkan ia mengajarkanmu satu hal. Tentang merelakan, tentang rasa yang tak melulu harus memiliki. Ialah ketika kamu tengah kesulitan bagaimana keikhlasan bekerja, belajarlah dari angin. Ia menyejukkan, namun tak pernah menampakkan fisiknya. Kenalilah lebih dekat. Menjadi angin ialah menjadi dirimu yang tanpa pamrih. Menyayanginya, mencintainya, bahkan jatuh hati padanya ialah upayamu membebaskan semuanya. Perihal ia menerima atau tidak, bukan lagi pada urusanmu mempengaruhinya. Angin tak pernah mengajarimu demikian, bukan?

Satu lagi..

Belajarlah dari dirimu sendiri. Sebab kamu mengagumkan. Selalu ada cinta pada hati seseorang, dan setiap orang punya cara masing-masing untuk menyampaikannya, setiap manusia punya jalan tersendiri untuk mengekspresikannya. Cinta yang membuatmu lemah sekaligus kuat. Lemah karena kamu terlalu berlarut-larut dalam perasaanmu, namun akan menjadi kuat sebab kamu yang mengetahui cara mendamaikan semuanya. Cinta membuatmu lebih mengenal dirimu sendiri. Cinta membuatmu menjadi diri sendiri. 

Belajarlah. Jangan pernah katakan padaku bahwa kamu akan memutuskan berhenti belajar. 



Belanda, Mei 2018.
-Ikrom Mustofa-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...