18/06/19

Catatan Pernikahan



Setelah berdamai dengan perasaan selama beberapa tahun terakhir. Setelah sama-sama sadar, bahwa kehadiran media sosial tak banyak membantu memberikan kabar setiap hari. Setelah sama-sama tahu, bahwa jarak tak lagi dipenuhi alasan ruang dan waktu, namun ternyata lebih dari itu. Alhamdulillah, Allah maha baik. Untuk waktu-waktu sulit ketika kami harus menunggu, berjuang, hampir putus asa. Bahkan ketika kami sama-sama paham bahwa kami saat itu tengah berada pada jalur yang tak benar-benar seragam. Namun akhirnya jawaban itu datang. 

Setelah perjalanan mengenal dengan tanpa banyak aksara dan bicara, kami telah sama-sama sepakat untuk saling menggenggam erat-erat. Bahwa segala alasan untuk melepaskan telah sedikit demi sedikit kami hilangkan. Segala peristiwa masa silam, perlahan kami ikhlaskan, seraya dijadikan pelajaran. Apapun, kami ialah bagian yang kemudian saling melengkapi dan menguatkan. Seraya berucap syukur dan sabar, kami berterima kasih untuk kepercayaan satu sama lain. Kemudian diam-diam berharap bahwa hari-hari ke depan adalah berkah, sama-sama kuat menjalani kehidupan baru, tetap birrul walidain, dan menjadi dua pribadi yang selalu mau memperbaiki diri. 

Kami percaya bahwa pada saatnya, kita akan bertemu seseorang yang kemudian membuat kita lebih yakin dengan masa depan, sekeras apapun. Pada saatnya, kita akan berani memutuskan untuk hidup dengan seorang tersebut, membuat rencana-rencana baru bersamanya, dan mengikhlaskan kepergian apa-apa yang tak disepakati berdua.

Kami juga percaya bahwa kalau ia orangnya, dia yang pergi akan segera kembali. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab usahanya telah membuat kita sedikit banyak mengerti mengapa harus sama-sama bertahan. Seorang bijak pernah berkata, “Jadilah karang, yang bahkan ombak dan badai saja tak mampu menepis ketegarannya”. Masa depan bersamanya barangkali memang harus terus setia merawat luka-luka.

Akhirnya, merencanakan masa depan setelah menikah membuat kami jadi orang yang lebih sering berdiskusi, kapanpun dan di manapun. Pembicaraan seperti siapa yang mau kuliah Doktor duluan, rencana membuat rumah dengan desain mirip pondok pesantren, mau punya anak berapa, sampai ke hal-hal ringan seperti makanan kesukaan menjadi lebih sering terdengar di telinga. Beruntung, kami bukan orang yang gemar menyimpan kekesalan hati berlama-lama, lebih sering disampaikan perlahan. Marahannya cuma 2 menit, selebihnya jadi bahan diskusi dan refleksi diri.

Kami sadar, sebulan lebih pasca mengenal lebih jauh ini masih belum cukup untuk sama-sama belajar. Hari-hari ke depan akan lebih banyak lagi pelajaran baru. Mau tidak mau, kami harus siap menghadapi. Ketika banyak orang mengampanyekan nikah muda maupun nikah setelah mapan, kami sepakat bahwa menikah ialah soal tanggung jawab pada diri sendiri. Setiap orang punya rencana kehidupan masing-masing, bahkan soal masa depan. Dalam pernikahan, sesuai dengan pengalaman kami, ada ego yang harus didamaikan, ada perasaan dan kasih sayang yang terus diungkapkan, dan harus ada kebaikan-kebaikan.

Terima kasih, Exma Mu’tatal Hikmah.


Jombang, 22 Maret 2019.

09/02/19

Februari yang Tiba-tiba Datang



Purnama kedua adalah Februari yang tiba-tiba datang di saat kamu tak juga berubah.

Bukankah segala yang sudah kita bersamai adalah tentang semua yang harus kita sadari ke-sementara-annya?

Sementara kita terlampau nyaman pada kondisi seperti ini. Menganggap semua baik-baik saja. Padahal waktu terus merangkak maju. Tak adakah sesuatu yang ingin kamu katakan? Tak adakah satu hal saja yang ingin kamu perbaiki?

Sudah purnama kedua, namun kamu masih saja beku. Gunung es pada temperatur paling rendah. Tak ada cair.

Kiriman harapan lewat doa sebulan terakhir juga masih belum menampakkan hasilnya. Aku yang kurang sabar, kurang bersyukur, atau memang kamu yang sudah tak dapat diharapkan?

Kerjaanku sekarang mirip dengan detektif. Mengamati semua aktivitasmu di media sosial. Membaca satu per satu segala apa yang kamu unggah. Mengamati pembicaraan akrab dengan karibmu di ranah maya. Kemudian dengan jurus terka, aku berupaya menghubung-hubungkan semuanya menjadi satu prasangka. Pada akhirnya semuanya buyar, yang tersisa hanyalah kekhawatiran dan kekhawatiran.

Aku mengkhawatirkanmu berlebihan, namun kamu belum tentu. Menyakitkan, bukan?

Belajarlah mencintai, menerima kenyataan, mensyukuri pemberian-Nya, dan bersabar pada setiap keadaan. Banyak orang dengan mudahnya berucap demikian. Menyadur dari berbagai sumber, kemudian mengabadikannya dalam pembaruan status media sosial. Namun kenyataannya, tak semua mampu mencintai dengan apa adanya. Tak banyak orang yang dengan mudahnya menerima kenyataan. Apakah aku juga demikian?


Ikrom Mustofa.
Februari.

03/01/19

"Denganmu Bahagia"

Untuk pernikahan Lisana Shidqin Aliya & Muhammad Salwa Arroid (Al-Hafidz)



Pagi ini kutemukan wajahmu untuk pertama kali
Seraya kubisikkan syukur pada Ilahi
Betapa penantian ialah kekuatan sepenuh hati
Dan hari ini, perjalanan baru segera dimulai
Menjadi sepasang baru, sepasang janji

Dengan lantunan bismillah 
Kuhadapkan wajahku pada binar matamu yang cerah
Kukenakan baju terbaik dengan aroma mawar merekah
Ya Allah
Telah engkau izinkan hambamu ini menikah
Menggenapkan tabah
Bersama seorang baru yang bersamanya beroleh berkah
Menggunungkan ikhtiar, melembahkan pasrah

Masa depan yang kerap kehilangan langkah
Kini bersamamu, aku menemukan semangat
Esok hari yang sering berteman duka-duka
Kini denganmu, kutemukan bahagia

Ya Allah, 
Semoga apa yang kami tempuh
Ialah dua kekuatan yang tak kenal mengeluh


Belanda, Desember 2018
-Ikrom Mustofa-

23/11/18

Indonesiaku: Mimpi dan Harapan untuk Negeriku


Oleh: Ikrom Mustofa

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Tujuh puluh tiga tahun merdeka ialah ribuan anak muda 
Berbicara di hadapan podium asing ratusan negara
Berlari di latar-latar pertandingan antar bangsa
Curahan ilmu dan pikiran dari berbagai belahan kampus terbaik dunia
Seni dan mahakarya tradisional bertengger pada pentas mancanegara
Untuk satu cita
Indonesia jaya

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Sembilan Puluh tahun sumpah pemuda ialah jutaan nyawa
Bergandeng tangan bahu membahu
Jiwa raga dalam semangat muda
Satu tanah air kita
Satu bangsa
Satu bahasa

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Puluhan tahun merdeka ialah gedung-gedung menjulang ke angkasa
Ibu-ibu paruh baya mengayuh sepeda menyambut senja
Kumpulan anak kecil mendekap kitab di dada mereka
Lampion malam berbinar hangat penuh cahaya
Senyuman sahaja, harapan serta asa, mimpi dan cita-cita mulia
Untuk Indonesia damai dan berbudaya

Negeriku, tanah airku, Indonesiaku
Puluhan tahun kebangkitan pemuda ialah satu semangat membara
Jati diri telah sejak lama terpatri dalam hati
Kebanggaan menjadi Anak Bangsa telah tertanam dalam pemikiran
Tanah air Indonesia
Bangsa Indonesia
Bahasa Indonesia

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Sebab kita semua harus tahu
Asa dan harapan itu masih tetap ada
Untuk kita rajut bersama

Belanda, November 2018


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...