17/09/18

Sampai Kapan-pun


Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merasa pantas—meski perasaan ini ingin usai lekas. Kita punya batas; dinding tebal yang dingin dan bisu. Aku tahu betul, tak sekali pun kamu akan membuka ruang merindu karena pilihanmu bukan aku. Semoga kamu mengerti, memperbaiki diri bukan proses sendiri. Tetapi, bersama—semoga kamu tidak menyesal ketika aku pergi.
Lalu pernahkah kamu membayangkan bagaimana mengubah nanar menjadi tegar? Mengubah sepotong hati yang mengandung perasaan pada seseorang jadi sebuah kekuatan baru. Menghilangkan ketakutan, termasuk akan hal-hal terburuk seperti perpisahan. Menjauhkan segala prasangka, pada tatap mata yang tetap memilih baik-baik saja. Menjadi lebih hati-hati, dalam menyikapi hari-hari yang makin pasi.  Dan aku melakukannya kali ini. Pada ke sekian kalinya ketika aku sadar bahwa berharap terlalu dalam harus rela bernasib kelam. Pada pertahanan paling menyesakkan ketika membebaskan perasaan pada seseorang mau tak mau juga harus berani mengikhlaskan.
Sungguh, aku tidak ingin dingin yang memeluk kesendirian ini menguat, hingga akhirnya kita sudah terlalu beku untuk memahami arti mencintai itu lagi. Bila saja kamu memahami bahwa begitu besar aku memperjuangkan hingga tetiap sitatap yang labuh padamu hanya menikamku kembali—memenjarakanku di balik jeruji ketidakpantasan itu.
Namun, barangkali kamu dan juga aku harus sama-sama mengerti. 
Bukankah setiap orang punya perasaan dengan haknya masing-masing? Kamu tak boleh memaksanya sedikit pun. Termasuk aku yang tak pernah mau lagi memintamu suka. Namun aku tetap mendoakan yang terbaik. Untukmu.
---------------------------------------------------------
Kolaborasi karya,
Ariqy Raihan & Ikrom Mustofa

25/08/18

Memulai Hari-hari Baru



Aku memulainya sendiri. Meyakinkan pada diriku bahwa hidup harus tetap berjalan bagaimanapun keadaannya. Hari-hari yang baru telah kudefinisikan sendiri. Ia tumbuh perlahan bersama keputusanku untuk melupakanmu. Hidup tak selamanya tentang kamu. Masa depan tak hanya sebatas aku yang menaruh perasaan padamu. Masa depan tak selamanya tentang aku yang harus berlama-lama menunggu keputusanmu tentang hubungan kemarin yang harus dibawa ke mana, dilanjutkan atau dicukupkan saja. Bahkan masa depan masih tetap milikku saat aku tak lagi punya harapan untuk hidup bersamamu.

Sekarang, semua hampir normal seperti sedia kala. Apabila beberapa orang terdekatku bertanya tentangmu, tentang kabarmu, atau malah tentang hubungan kita padaku, perlahan-lahan aku telah mampu menjelaskan semuanya kepada mereka. Jika awal-awal perpisahan itu menyisakan aku yang takut bertemu banyak orang, sekarang aku menyadari bahwa mungkin dari mereka aku menemui hal-hal baru, bahkan pencerahan dari semua masalah ini. Jika awal-awal perpisahan denganmu menyisakan depresi yang mendalam, sekarang aku mencukupkan diri bahwa hidup tak sekadar pencitraan di depan gambar-gambar fana, atau bahkan media sosial milikmu sekalipun.

Hidup ialah perjalanan penghambaan kita pada-Nya.

Bukankah semua orang berhak untuk berubah? Bila diperbolehkan, menurutku berubah ialah hak asasi manusia. Tak seorang pun mampu melarang. Tak seorang pun mampu memberi perintah. Hanya ikatan antara manusia dan Tuhan yang pada akhirnya akan mengarahkan perubahan itu sendiri.

Narapidana yang keluar dari penjara tentu berhak untuk berubah menjadi seorang yang insaf. Seorang yang tak lagi melakukan kesalahan serupa di kemudian hari. Ia menjalani hidup baru. Lebih agamis. Lebih sederhana. Lebih dekat dengan Tuhan-Nya.

Seorang yang pernah mengalami mati suri berhak untuk menangisi apa-apa yang sudah terjadi. Pada dirinya. Pada keluarganya. Pada semua hal yang telah melekat pada namanya. Siapa pun dia, ia berhak untuk melanjutkan kehidupan barunya. Menjadi lebih baik, sebab ia jauh lebih beruntung ditunjukkan kehidupan selepas kehidupan fana ini lebih dahulu. Ia telah merasakan. Apa-apa yang ia lakukan sekarang di kehidupan barunya mungkin saja akan lebih berasa maknanya dibandingkan kita yang belum pernah melihat segala rupa kehidupan setelah dunia fana ini.

Apakah kita harus menemui kegagalan, menjumpai kesalahan, atau menyaksikan segala balasan dari apa-apa yang kita lakukan sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik?

Hingga akhirnya, lagi-lagi aku harus banyak bersyukur. Kegagalan denganmu telah mengajarkanku untuk lebih sadar diri. Menyadari apa-apa yang sudah seharusnya dijalani, dan apa yang harus ditinggalkan. Menyadari bahwa jalan masih panjang di depan sana. Benar, sekali lagi tak semua kata berubah lahir dari kegagalan- kegagalan yang pernah kita alami. Namun setidaknya, kegagalan selalu menyadarkanku bahwa berubah itu adalah sebuah keniscayaan.

Aku percaya, tak ada yang mudah untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, ada yang lebih payah dari hidup ini. Ialah ketika kita tahu bahwa jalan yang kita tempuh sudah tak baik, namun kita enggan segera beranjak pergi. Ialah ketika kita tahu bahwa berubah adalah keputusan yang paling tepat, namun kita tak segera mau melakukannya.

Dan pelan-pelan, aku tengah merapal tabah dengan perubahan yang sedang kujalani.


Belanda, 2018. 

22/07/18

Lahirnya "Dalam Sketsa"


Dalam Sketsa adalah kumpulan prosa senandika, yang di dalamnya terdapat prosa, puisi, cerita pendek, dan juga sketsa-sketsa syahdu yang siap membawamu jatuh cinta pada setiap halamannya. Satu hal unik dalam buku ini ialah latarnya yang sebagian besar menggambarkan keromantisan tanah Eropa dengan segala suka dan dukanya.
Buku ini akan membawamu berdialog dengan perasaanmu sendiri. Tentang kamu yang harus siap untuk mengutarakan perasaan pada seorang istimewa itu atau tidak sama sekali. Tentang hubungan yang harus sama-sama diamini dan dijalani sebaik bunga-bunga mekar di musim semi. Dan tentang dua orang yang harus sama-sama menyerahkan hubungan baik pada-Nya. Menyandarkan cinta bahkan masa depan hanya pada-Nya, bagaimanapun keputusannya. 
Ada 11 purnama di dalamnya, yang membuat kamu semakin tercampur aduk dalam perasaan yang dituangkan dalam tulisan apik selama 11 bulan lamanya. Berkisah tentang rasanya bertemu seseorang dan menyatakan perasaan. Kemudian menjadi sepasang yang saling diam, namun ternyata saling mengagumi. Tak hanya itu, buku ini juga menjelaskan bagaimana seorang yang amat perasa yang kemudian bertemu dengan seorang yang tak peka. Tentang perihnya dikecewakan, pedihnya dikhianati, dan sakitnya ditinggal pergi. Barangkali seperti kejadian yang tengah kamu rasakan saat ini, Ia yang kemudian harus bersama orang lain, dan kamu yang perlahan harus benar-benar melupakan. 
Buku ini akhirnya berharap akan memenuhi perpustakaan jiwamu. Menatanya dalam rak-rak rapi. Bersanding dengan karya-karya yang memaksamu untuk mengenang kesan, mensyukuri keterlahiran, sekaligus mengikhlaskan kepergian. Akhirnya, selamat menyelami satu per satu judul-judul bisu di dalamnya. Namun percayalah, ia berbicara banyak dalam perasaan-perasaan yang pada akhirnya kamu ikhlaskan. 

Selamat mengoleksi.

Belanda, Juli 2018.
 ----------------------------------------------------------------
DALAM SKETSA
Penulis: Ikrom Mustofa
Penerbit: Mediakita
Penyunting: Fenisa Zahra
Sketsa: Qomaruzzaman Alamry

07/07/18

Dalam "Menua Bersamamu"

Sebuah Puisi, Untuk pernikahan sahabat Sigit Eko Januar & Rafika Shofidaliana


Dengan lafaz basmalah disambut sapuan angin-angin desa
Seraya kutadahkan tangan dalam dekapan doa-doa
Bertabur santunnya bahasa yang termaktub dalam janji-janji
Bermetamorfosa pada ikatan-ikatan penuh arti
Dalam tawa bahagia namun tetap syahdu
Dalam senyuman dua perasaan saling padu
Dalam ingatan untuk saling mencipta asa
“Esok, lusa, dan hari-hari selanjutnya ialah kita berdua.”

Dengan satu napas rangkaian kalimat akad
Kita melangit dalam harapan-harapan
Kemudian membumi dalam kesetiaan
Kita meninggi dalam kebaikan-kebaikan
Kemudian merendah dalam kesederhanaan
Kita hiperbola untuk saling bertukar pujian
Kemudian kita hilangkan segala keangkuhan

Dengan genggaman tanganmu yang kemudian kini dapat kudekap erat-erat
Kita rangkai mimpi 
Kita semai Kebaikan nan abadi

Dengan disaksikan puluhan bahkan ratusan pasang mata
Kita berjalan pada apa-apa yang belum pernah kita lakukan
Hal-hal baru yang membuatmu baru
Membuatku baru
Rumah baru itu bukan sekadar bangunan berpondasi dan berjendela baru
Namun hati dan perasaan kita
Yang mengikhlaskan apa-apa yang sudah
Yang merelakan segala yang pernah

Terima kasih
Atas hari yang kemudian kita menyebutnya sejarah
Bahwa hari esok adalah dua doa
Dua kebahagiaan
Dua keterasingan yang kini menemui dunianya
Ialah kita, hati kita, perasaan kita
Dan segala yang ada dalam diri kita

Terimalah
Sebab kamu tak perlu mengerti aku sepenuhnya
Menerima ialah melegakan
Untuk masa depan yang akan selalu jadi hari-hari paling berkesan



Belanda, Juli 2018.
-Ikrom Mustofa-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...