11/08/20

Bicara

 

Akhirnya kita berdua bicara. Gunung es beku itu sedikit lebih cair. Bukan soal panas matahari atau perubahan musim, namun tentang perasaan yang mulai terbiasa.

 

“Pelan-pelan, tiap manusia punya energi sendiri-sendiri.” Tulisku di ujung percakapan via whatsapp. Membiarkanmu menangis adalah kesalahan tersendiri buatku. Aku yang membuatmu menangis. Membuatmu sejatuh ini. Bukan hanya jatuh, kamu bahkan harus menanggung beban perasaan ini.

 

“Satu-satu ya. Jangan terburu-buru. Lagipula, kamu yang tahu tujuanmu sendiri, bukan orang lain yang hanya bisa mengomentari tanpa peduli perjuanganmu seberat apa.” Lanjutku sembari menenangkanmu dari kejauhan. Aku ikut merasakan bagaimana beban itu jadi air mata. Menutup harimu dengan begitu sesenggukan. Ujian untuk bisa bersama memang terasa sangat berat.

 

“Kalau sudah buntu, saling bantu ya. Saling peluk masalahnya, kemudian pecahkan sama-sama. Aku lebih kuat kalau ada kamu. Kamu lebih tegar kalau sama aku.” Aku menutup percakapan denganmu senja itu. Kemudian sejenak kupalingkan pandangan ke luar jendela. Temaram ufuk di ujung sana. Memisahkan sejenak matahari untuk kembali hadir esok pagi.

 

Bahkan matahari yang esok pagi sudah pasti hadir saja, kadang masih kerap dirindui, apalagi kamu yang bahkan esok atau lusa aku belum tahu bagaimana kelanjutan semuanya. Bahkan soal hubungan ini.


-Ikrom Mustofa-

13/07/20

Masa Depan



Nanti, rumah itu akan kita bangun. Dinding yang tak hanya batu dan kayu-kayu, namun iman agar kita berdua selalu diberikan kekuatan dan ketabahan. Atap yang tak hanya peneduh dari segala hujan, namun juga hati kita agar senantiasa berkah.

Nanti, impian itu akan sama-sama kita bangun. Memeluk yang ada erat-erat, mencari yang tiada, gagal kita rasakan berdua, cerita dan kenangan kita nikmati bersama. Nanti, impian itu akan jadi cara kita bicara. Memandang matamu yang berbinar-binar, mendukung apapun keputusan kita. Walau terdengar mustahil, namun kamu selalu meyakinkan.

Kita menua bersama. Hari-hari ke depan adalah tugas berdua yang tak ada lagi masing-masing, kecuali bersama, dalam keadaan apapun. Kalau boleh aku memilih, ke depan tak ada lagi jarak, baik fisik maupun perasaan. Kita jalan bersama. Kita di kota yang sama. Kita menyambut pagi maupun senja pada waktu dan udara yang sama.

Untuk itu, temani langkah kaki ini. Sebab aku tak mampu kalau harus berjalan sendiri.


-Ikrom Mustofa- 

08/07/20

Debu



Mengharapkanmu atau mengikhlaskanmu?

Sejak mengenalmu, mengetahui segala hal tentang dirimu, aku mulai membuat semacam peluang keberhasilan versi manusia. Segala macam sudut pandang tentangmu telah kupertimbangkan baik-baik. Untuk kemudian makin bersemangat memperjuangkanmu, atau harus perlahan mengikhlaskanmu.
Namun sampai sejauh ini, aku tak lagi bersikeras dengan perasaanku sendiri. Bukan soal pasrah, apalagi menyerah. Namun aku sadar, bahwa perasaan memang mau tak mau harus tepat pada tempatnya. Terlebih, sekarang aku memulai untuk sadar, bahwa memaksamu suka adalah sia-sia. Walaupun, diam-diam dalam doa aku selalu menyisihkan waktu beberapa puluh detik untuk memintamu, memintamu lebih cair, lebih peka, dan lebih punya rasa. Padaku.



-Ikrom Mustofa

06/07/20

Hadiah Masa Depan



Perkenalkan, masa depan ialah kumpulan benda-benda murah aneka warna semacam tas, arloji, kacamata, dan sejenisnya yang membuatmu teramat bangga memakainya. Apalagi kalau bukan hadiah momen-momen istimewa dari seorang terbaikmu. Bahkan ketika harus malu-malu memberikannya. Atau sering kali memilih untuk meletakkannya di ujung ranjang dengan secarik kertas surat di atasnya. Sesederhana itu. semoga.

Perkenalkan, masa depan adalah kamu yang tak pernah bosan meneguk teh dengan rasa serupa setiap harinya denganku. Menelponku dengan pertanyaan yang telah hapal di luar kepala. Menanyakan keadaanku. Masa depan adalah buku-buku favorit yang kita baca bersama. Sampai-sampai kita hapal mati kutipan-kutipan favorit di dalamnya. Membeli makanan satu porsi untuk berdua, selain hemat, suasananya akan jauh lebih manis dan romantis.

Masa depan itu telah ada di depan mata. Bersamamu, kuyakin ada banyak kesempatan untuk sama-sama kita perjuangkan.

-Ikrom Mustofa-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...