18/10/18

Hujan dan Rindu


Rindu telah menjelma dedaunan; jatuh di depan rumahmu
Rindu telah bersekutu dengan senyuman; cair di pelupuk matamu

Kalau esok malam hujan turun di tempatmu,
Barangkali itu segenap rindu yang kualamatkan padamu.

Untuk segala caci-maki akhir-akhir ini
Kau satu yang masih selalu ada dalam puji



Musim Gugur, Oktober 2018
-Ikrom Mustofa-

15/10/18

Barangkali..


Barangkali kamu adalah laut yang memilih biru
Dan aku ialah angin yang menderu ombak

Barangkali langit adalah doa-doa
Dan kita ialah bumi, rumah segala diksi

Andai kosakata memilih pergi
Tetaplah bersamaku di sini



Belanda, Oktober 2018
Ikrom Mustofa


03/10/18

Harapan dan Putus Asa


Apakah batas antara berharap dan putus asa itu ada?

Aku kemudian bertanya pada diri sendiri. Mengamati sisi-sisi gelap kota ini. Berjalan tanpa arah. Membelah malam, menyingkap kegelapan. Merenung pada titik paling memilukan.

Mungkin, berharap dan putus asa itu ikut mengalir dalam darah. Dua hal yang tak mampu dipisahkan. Dalam kondisimu yang tengah berharap, ada putus asa di sana. Dan dalam keadaanmu yang tengah berputus asa, ada setitik harapan di sana. Manusiawi sekali. Selalu ada hitam putihnya. Khilaf selalu menawarkan sebuah kata maaf, bukan?

Apakah batas antara rindu dan benci itu ada?

Aku kemudian melihat pada diriku sendiri. Menyusuri setiap bilik perasaan ini. Kemudian mengingatmu sejenak. Tak dapat dimungkiri, aku merindukanmu. Bahkan sangat merindumu. Setiap hal tentangmu membuatku rindu. Namun aku juga benci kamu saat ini. Aku benci dari caramu memperlakukanku. Membuatku kecewa berkepanjangan. Membuatku semakin berharap dalam ketidakpastian.

Bagiku saat ini, aku bahkan tak menemui batas antara rindu dan benci. Ia beriringan, berpapasan, kadang saling tumpang tindih. Seperti ketika aku mengingatmu, kemudian rindu hadir tiba-tiba, beberapa saat setelah itu timbul benci padamu. Kamu orang yang telah berhasil menghadirkan rasa rindu dan benci jadi bersahabat. Saat ini.


#DalamSketsa
-Ikrom Mustofa-


17/09/18

Sampai Kapan-pun


Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merasa pantas—meski perasaan ini ingin usai lekas. Kita punya batas; dinding tebal yang dingin dan bisu. Aku tahu betul, tak sekali pun kamu akan membuka ruang merindu karena pilihanmu bukan aku. Semoga kamu mengerti, memperbaiki diri bukan proses sendiri. Tetapi, bersama—semoga kamu tidak menyesal ketika aku pergi.
Lalu pernahkah kamu membayangkan bagaimana mengubah nanar menjadi tegar? Mengubah sepotong hati yang mengandung perasaan pada seseorang jadi sebuah kekuatan baru. Menghilangkan ketakutan, termasuk akan hal-hal terburuk seperti perpisahan. Menjauhkan segala prasangka, pada tatap mata yang tetap memilih baik-baik saja. Menjadi lebih hati-hati, dalam menyikapi hari-hari yang makin pasi.  Dan aku melakukannya kali ini. Pada ke sekian kalinya ketika aku sadar bahwa berharap terlalu dalam harus rela bernasib kelam. Pada pertahanan paling menyesakkan ketika membebaskan perasaan pada seseorang mau tak mau juga harus berani mengikhlaskan.
Sungguh, aku tidak ingin dingin yang memeluk kesendirian ini menguat, hingga akhirnya kita sudah terlalu beku untuk memahami arti mencintai itu lagi. Bila saja kamu memahami bahwa begitu besar aku memperjuangkan hingga tetiap sitatap yang labuh padamu hanya menikamku kembali—memenjarakanku di balik jeruji ketidakpantasan itu.
Namun, barangkali kamu dan juga aku harus sama-sama mengerti. 
Bukankah setiap orang punya perasaan dengan haknya masing-masing? Kamu tak boleh memaksanya sedikit pun. Termasuk aku yang tak pernah mau lagi memintamu suka. Namun aku tetap mendoakan yang terbaik. Untukmu.
---------------------------------------------------------
Kolaborasi karya,
Ariqy Raihan & Ikrom Mustofa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...