23/11/18

Indonesiaku: Mimpi dan Harapan untuk Negeriku


Oleh: Ikrom Mustofa

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Tujuh puluh tiga tahun merdeka ialah ribuan anak muda 
Berbicara di hadapan podium asing ratusan negara
Berlari di latar-latar pertandingan antar bangsa
Curahan ilmu dan pikiran dari berbagai belahan kampus terbaik dunia
Seni dan mahakarya tradisional bertengger pada pentas mancanegara
Untuk satu cita
Indonesia jaya

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Sembilan Puluh tahun sumpah pemuda ialah jutaan nyawa
Bergandeng tangan bahu membahu
Jiwa raga dalam semangat muda
Satu tanah air kita
Satu bangsa
Satu bahasa

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Puluhan tahun merdeka ialah gedung-gedung menjulang ke angkasa
Ibu-ibu paruh baya mengayuh sepeda menyambut senja
Kumpulan anak kecil mendekap kitab di dada mereka
Lampion malam berbinar hangat penuh cahaya
Senyuman sahaja, harapan serta asa, mimpi dan cita-cita mulia
Untuk Indonesia damai dan berbudaya

Negeriku, tanah airku, Indonesiaku
Puluhan tahun kebangkitan pemuda ialah satu semangat membara
Jati diri telah sejak lama terpatri dalam hati
Kebanggaan menjadi Anak Bangsa telah tertanam dalam pemikiran
Tanah air Indonesia
Bangsa Indonesia
Bahasa Indonesia

Negeriku,tanah airku, Indonesiaku
Sebab kita semua harus tahu
Asa dan harapan itu masih tetap ada
Untuk kita rajut bersama

Belanda, November 2018


18/10/18

Hujan dan Rindu


Rindu telah menjelma dedaunan; jatuh di depan rumahmu
Rindu telah bersekutu dengan senyuman; cair di pelupuk matamu

Kalau esok malam hujan turun di tempatmu,
Barangkali itu segenap rindu yang kualamatkan padamu.

Untuk segala caci-maki akhir-akhir ini
Kau satu yang masih selalu ada dalam puji



Musim Gugur, Oktober 2018
-Ikrom Mustofa-

15/10/18

Barangkali..


Barangkali kamu adalah laut yang memilih biru
Dan aku ialah angin yang menderu ombak

Barangkali langit adalah doa-doa
Dan kita ialah bumi, rumah segala diksi

Andai kosakata memilih pergi
Tetaplah bersamaku di sini



Belanda, Oktober 2018
Ikrom Mustofa


03/10/18

Harapan dan Putus Asa


Apakah batas antara berharap dan putus asa itu ada?

Aku kemudian bertanya pada diri sendiri. Mengamati sisi-sisi gelap kota ini. Berjalan tanpa arah. Membelah malam, menyingkap kegelapan. Merenung pada titik paling memilukan.

Mungkin, berharap dan putus asa itu ikut mengalir dalam darah. Dua hal yang tak mampu dipisahkan. Dalam kondisimu yang tengah berharap, ada putus asa di sana. Dan dalam keadaanmu yang tengah berputus asa, ada setitik harapan di sana. Manusiawi sekali. Selalu ada hitam putihnya. Khilaf selalu menawarkan sebuah kata maaf, bukan?

Apakah batas antara rindu dan benci itu ada?

Aku kemudian melihat pada diriku sendiri. Menyusuri setiap bilik perasaan ini. Kemudian mengingatmu sejenak. Tak dapat dimungkiri, aku merindukanmu. Bahkan sangat merindumu. Setiap hal tentangmu membuatku rindu. Namun aku juga benci kamu saat ini. Aku benci dari caramu memperlakukanku. Membuatku kecewa berkepanjangan. Membuatku semakin berharap dalam ketidakpastian.

Bagiku saat ini, aku bahkan tak menemui batas antara rindu dan benci. Ia beriringan, berpapasan, kadang saling tumpang tindih. Seperti ketika aku mengingatmu, kemudian rindu hadir tiba-tiba, beberapa saat setelah itu timbul benci padamu. Kamu orang yang telah berhasil menghadirkan rasa rindu dan benci jadi bersahabat. Saat ini.


#DalamSketsa
-Ikrom Mustofa-


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...