24/05/20

Lebaran di Tengah Pandemi


Assalamualaikum Teman-teman,

Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Sedari tadi gema takbir berkumandang dari perangkat elektronik di sekitarmu, dari speaker surau dekat rumahmu, televisi, radio mini, atau mungkin telepon selular milikmu. Tanpa sadar, kita telah melalui Ramadan sebulan terakhir, tentu bersama pasang surut semangat yang kita punya.

Semoga kamu baik-baik saja. Suasana Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya selalu kamu habiskan bersama keluarga besar, menikmati sajian hari raya, mencium tangan kedua orang tua, saling memaafkan, tangis haru untuk segala khilaf setahun terakhir maupun berkah panjang umur yang Allah berikan sampai hari ini, yang tentu tak lupa ditutup dengan sesi bergambar bersama, mengabadikan kenangan agar menjadi ingatan manis sampai nanti.

Namun tidak dengan hari ini. Suasana Salat Ied di tanah lapang atau di masjid besar mungkin harus kau urungkan dalam-dalam. Sahut-sahutan takbir bersama kerabat barangkali harus kamu pendam rapat-rapat. Bahkan tradisi sungkeman mencium tangan orang tua seraya meminta maaf pada mereka mungkin hanya mampu kamu lakukan dari kejauhan. Tak ada lagi foto bersama, terlebih dengan orang-orang tercinta kita yang beberapa waktu belakangan ini telah berpulang pada Tuhan.

Hari ini kamu memutuskan batal pulang ke rumah, seraya meyakinkan diri untuk menghabiskan Ramadan dan Idul Fitri di kamar kos yang sesak, kontrakan, atau rumah mungilmu sendiri. Lebaran bersama pandemi, begitu kamu menamainya sejak patah hati sebab tak mampu untuk sekadar menenangkan diri di kampung halaman dari segala hiruk pikuk aktivitasmu belakangan ini. Padahal, waktu itu kamu sudah siap pulang dengan segala kelengkapanmu, tiket perjalanan sudah ada di tanganmu. Padahal, kamu telah membayangkan bahwa hari ini akan begitu manis berada di tengah-tengah orang yang kamu sayangi.

Pandemi telah membuat suasana fitri ini begitu berbeda. Barangkali ini yang dinamakan rindu, harus sama-sama menanggung beban jarak dan waktu. Lewat pesawat telepon, kamu tersambung dengan orang-orang tersayangmu. Saling memaafkan, saling mengikhlaskan yang sudah-sudah, sambal sesekali kau seka air mata yang tak sengaja ikut keluar menemani sedih dan haru.

Di penutup telepon dengan orang terkasihmu, kamu berharap semoga bencana ini segera usai, hingga segera temu itu terulang kembali. Tepatnya sejak tadi malam, di sela-sela lantunan takbir, kamu selipkan doa-doa terbaik untuk negeri ini. Semoga kekuatan dan ketabahan ada pada kita semua. Semoga kebijaksanaan dan kearifan semakin melekat pada hati kita masing-masing.

Selamat Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan batin.


Salam hangat dari kami,
Ikrom, Exma, dan Mutia

21/05/20

Selagi Syukur Masih Ada


Kalau kurang syukur, rasanya apa saja tidak pernah cukup. Baru aja jadi mahasiswa, pengen buru-buru kerja. Baru aja kerja, pengen cepet nikah. Pas udah nikah, pengen buru-buru punya rumah. Ganti mobil, ambil cicilan ini itu, sampai-sampai harus kewalahan cari pinjaman sana-sini untuk membayar tagihan. Dapet gaji sekian, ngga pernah bisa nabung. Gaji naik, pengeluaran juga bertambah, tabungan tetap nihil, bahkan malah harus pinjam uang ke saudara atau teman dekat. Jangankan berbagi, memenuhi kebutuhan diri sendiri juga masih belum tercukupi.
Standar hidup selalu diarahkan dengan orang-orang di sekitar. Mereka punya ini, kita harus punya juga. Mereka dapat itu, sebisa mungkin kita dapat yang lebih besar kadarnya.
Padahal, di balik itu Allah telah memberikan rezeki jauh lebih luas daripada itu. Ada kemudahan yang tak harus dengan uang, ada kebaikan, ada kesabaran yang diberikan pada kita, ada nikmat-nikmat yang tanpa kita sadari terus diberikan Allah sampai hari ini.
Satu lagi, barangkali sadar atau tidak sadar, kita sedang menempuh perjalanan masing-masing. Ada yang sehat dan bugar, namun meninggal di usia muda. Ada yang hidupnya penuh ujian, namun diberikan berkah umur panjang.
Semoga kita selalu merasa cukup. Semoga kita selalu bersyukur.

-Ikrom Mustofa-

06/01/20

Bagaimana Jika Bukan Kamu Seorang Istimewa dalam Hidupnya?


Sudah sejauh ini kamu terlalu terbuai dengan sikapnya yang teramat hangat, perhatian, memberimu kesempatan untuk berkeluh-kesah, bahkan setia mendengarkan curhatanmu, apa saja.
Sudah sedekat ini hubunganmu dengannya, walaupun tanpa janji apa-apa, kamu sadar atau tidak sadar sudah terlanjur nyaman dengan semuanya. Maju meminta kejelasan adalah sesuatu yang cukup berat untuk dilakukan, sedangkan mundur dan menepi adalah jelas-jelas menyakiti. Begitu pikirmu hingga titik ini terlalu berkesan untuk dilupakan.
Namun tiba-tiba, dia mengajakmu bercerita tentang seorang yang amat ia kagumi, bahkan ia tak lagi punya alasan untuk tak menaruh hati pada seorang istimewa itu. Dan kamu tahu, bahwa seorang itu sama sekali bukan kamu. Kamu tersenyum, namun hatimu berbeda. Kamu mencoba memberi pandangan baik padanya, namun sungguh kamu hanya sedang menenangkan perasaanmu sendiri.
Semoga kamu mengerti. Bahwa perasaan kerap tak bersahabat. Bahwa ada hati yang harus mengikhlaskan untuk seorang yang tengah memperjuangkan perasaannya sendiri.

-Ikrom Mustofa-

18/06/19

Catatan Pernikahan



Setelah berdamai dengan perasaan selama beberapa tahun terakhir. Setelah sama-sama sadar, bahwa kehadiran media sosial tak banyak membantu memberikan kabar setiap hari. Setelah sama-sama tahu, bahwa jarak tak lagi dipenuhi alasan ruang dan waktu, namun ternyata lebih dari itu. Alhamdulillah, Allah maha baik. Untuk waktu-waktu sulit ketika kami harus menunggu, berjuang, hampir putus asa. Bahkan ketika kami sama-sama paham bahwa kami saat itu tengah berada pada jalur yang tak benar-benar seragam. Namun akhirnya jawaban itu datang. 

Setelah perjalanan mengenal dengan tanpa banyak aksara dan bicara, kami telah sama-sama sepakat untuk saling menggenggam erat-erat. Bahwa segala alasan untuk melepaskan telah sedikit demi sedikit kami hilangkan. Segala peristiwa masa silam, perlahan kami ikhlaskan, seraya dijadikan pelajaran. Apapun, kami ialah bagian yang kemudian saling melengkapi dan menguatkan. Seraya berucap syukur dan sabar, kami berterima kasih untuk kepercayaan satu sama lain. Kemudian diam-diam berharap bahwa hari-hari ke depan adalah berkah, sama-sama kuat menjalani kehidupan baru, tetap birrul walidain, dan menjadi dua pribadi yang selalu mau memperbaiki diri. 

Kami percaya bahwa pada saatnya, kita akan bertemu seseorang yang kemudian membuat kita lebih yakin dengan masa depan, sekeras apapun. Pada saatnya, kita akan berani memutuskan untuk hidup dengan seorang tersebut, membuat rencana-rencana baru bersamanya, dan mengikhlaskan kepergian apa-apa yang tak disepakati berdua.

Kami juga percaya bahwa kalau ia orangnya, dia yang pergi akan segera kembali. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab usahanya telah membuat kita sedikit banyak mengerti mengapa harus sama-sama bertahan. Seorang bijak pernah berkata, “Jadilah karang, yang bahkan ombak dan badai saja tak mampu menepis ketegarannya”. Masa depan bersamanya barangkali memang harus terus setia merawat luka-luka.

Akhirnya, merencanakan masa depan setelah menikah membuat kami jadi orang yang lebih sering berdiskusi, kapanpun dan di manapun. Pembicaraan seperti siapa yang mau kuliah Doktor duluan, rencana membuat rumah dengan desain mirip pondok pesantren, mau punya anak berapa, sampai ke hal-hal ringan seperti makanan kesukaan menjadi lebih sering terdengar di telinga. Beruntung, kami bukan orang yang gemar menyimpan kekesalan hati berlama-lama, lebih sering disampaikan perlahan. Marahannya cuma 2 menit, selebihnya jadi bahan diskusi dan refleksi diri.

Kami sadar, sebulan lebih pasca mengenal lebih jauh ini masih belum cukup untuk sama-sama belajar. Hari-hari ke depan akan lebih banyak lagi pelajaran baru. Mau tidak mau, kami harus siap menghadapi. Ketika banyak orang mengampanyekan nikah muda maupun nikah setelah mapan, kami sepakat bahwa menikah ialah soal tanggung jawab pada diri sendiri. Setiap orang punya rencana kehidupan masing-masing, bahkan soal masa depan. Dalam pernikahan, sesuai dengan pengalaman kami, ada ego yang harus didamaikan, ada perasaan dan kasih sayang yang terus diungkapkan, dan harus ada kebaikan-kebaikan.

Terima kasih, Exma Mu’tatal Hikmah.


Jombang, 22 Maret 2019.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...