• Pre-Order 2 Sebuah Warna, Periode 7-30 September 2014.

  • Pre-Order 2 Sebuah Warna, Periode 7-30 September 2014.

  • Jepang, Berfoto bersama bapak Rektor IPB dalam rangkaian kegiatan SUIJI-SLP 2013, Ehime, Matsuyama.

  • Klaten, dalam rangkaian kegiatan IPB Goes To Field.

  • Malaysia, pengalaman tak terlupakan bersama sahabat baru "Youth Be Aware" at Melaka.

  • Malaysia, "Youth Be Aware" serunya sahabat baru di Malaysia. Keren :)

23/04/17

Posted by Ikrom Mustofa
No comments | 15.58


Untuk beberapa waktu ke depan, rasanya keterasingan akan jadi teman terbaik. Setelah rindu yang harusnya ditumbuhkan baik-baik, kini tinggal residunya saja. Setelah jatuh cinta yang semestinya bisa menemukan semangat tersendiri, kini tinggal raga kosong saja.

Aku membayangkan diriku saat ini tak lebih dari seorang pendatang di tanah baru. Tanpa bekal harta, bahkan bahasa sekalipun. Berbicara saja sulit, apalagi sampai berkenalan dekat dengan orang-orang baru. Keterasingan yang menyiksa dan membatasi diri.

Aku terasing dari rindu yang semestinya tumbuh bak cendawan pada musim penghujan. Atau sakura pada musim semi. Lagi-lagi rindu ini jauh sekali dari definisi rindu sesungguhnya. Rindu yang hampa. Yang kebanyakan orang bilang bahwa ini bukan rindu, sebab berada tak pada tempatnya.

Kamu kenal dengan simalakama? Rindu ini mirip dengan buah bernama simalakama. Serba salah. Jika aku mencoba memberi ruang pada rindu, rasanya sia-sia saja. Namun jika aku berupaya mencegah kerinduan ini, sungguh aku tak punya kuasa.

Aku semakin terasing pada tempat asing ini.

Baiklah, aku bertanya pada diriku sendiri. Membatin. Apakah di dalam dadamu terdapat satu ruang tambahan yang tak dapat diterjemahkan oleh pengetahuan faal tubuh? Mungkinkah ruang itu berisi ribuan siasat untuk mengasingkan hati orang lain? Dan kamu tahu, aku korbannya. Aku korban keterasingan ini.

Ah, lagi-lagi aku terlalu berburuk sangka padamu. Padahal kerap kali aku berjanji pada diri sendiri untuk selalu menganggap ini bagian dari memperjuangkanmu. Namun setiap harinya aku selalu dikelabuhi oleh bermacam-macam perasaan. Kadang semangat berlebihan, kadang aku jadi acuh, namun kerap kali aku jadi orang yang paling lemah menghadapi ini semua.

Aku semakin terasing pada tempat asing ini.

Aku ingin pulang. Memulangkan hati yang bagiku beban. Memulangkan perasaan. Hingga aku bisa kembali bersama hal-hal yang tak asing. Dan aku akan menjalani hidup seperti kebanyakan orang, tak melulu membohongi perasaan seperti ini. Namun perjalanan ini telah menempuh jauh yang sayang sekali ketika harus berbalik arah. Bahkan aku belum memperoleh apa-apa.


Beginikah rasanya berjuang? Beginikah rasanya memperjuangkan perasaan? Aku terus membatin dan mengeluh di sela-sela keterasingan itu.


Dalam Sketsa
-Ikrom Mustofa-

15/04/17

Posted by Ikrom Mustofa
No comments | 07.50


Satu doa terbaik untukmu adalah, bisakah kamu kembali dari kepergian sementaramu. Aku percaya bahwa jatuh cinta tak harus memiliki, mengagumi dari kejauhan bahkan bisa saja lebih syahdu. Namun, bisakah penerimaan itu tak menerpa diriku. Aku ingin semuanya seperti sediakala, seperti dahulu kita bersama. Pergimu adalah resah, dan resah ini mendera dada. Semakin hari, semakin sakit rasanya.

Mengembalikan yang pergi. Aku mulai rajin menyusun siasat untuk mengembalikan keadaan kita seperti pertama jumpa. Bagiku saat ini kita tengah mati suri yang pada akhirnya harus hidup kembali. Menghirup udara seperti hidup normal kebanyakan orang, namun dengan jiwa yang baru. Atau kita seperti pepohonan yang harus segera didatangi hujan. Menyuburkan, membuat kita hidup kembali. Tak hanya fisik, namun juga kita menjadi jiwa-jiwa yang hidup. Aku mau kita bersatu, tanpa rentetan kenelangsaan seperti sekarang.

Mengembalikan yang pergi. Aku dan kamu yang tak perlu lagi berkutat dalam teka-teki. Menuruti perasaan ini yang makin menjadi-jadi. Kita tak butuh sandiwara soal hati. Apalagi kita telah berucap untuk saling menepati janji.


Bisakah kamu kembali?



-Ikrom Mustofa-
Dalam Sketsa

05/04/17

Posted by Ikrom Mustofa
2 comments | 04.03


Apa yang mencipta nestapa dalam jatuh cinta? Ialah dia yang tak selalu berpihak. Ialah kamu yang tak segera mengerti bahwa aku menaruh harap padamu. Sudah kusampaikan dengan baik, namun kamu enggan segera menanggapi. Kamu ragu untuk memutuskan, dan aku semakin khawatir dengan penantian tanpa harapan. Haruskah kulanjutkan perjuangan ini?

Apa yang membuat jatuh cinta lari dari segala hukum keserasaan dan keserasian? Ialah pesona jatuh cinta itu sendiri. Ia yang membuatnya berjalan pada jalur-jalur berseberangan. Mencipta anomali sebab perbuatannya sendiri. Rasa yang kita bicarakan senja kemarin tak selamanya menempuh jalan mulusnya. Banyak sekali aral melintang yang kerap jadi alasan seseorang berputus asa pada janji, mundur tiba-tiba, atau harus merelakan untuk tidak jatuh cinta.

Jatuh cinta yang kualami selalu kehilangan alasan. Kehabisan akal untuk menjelaskan mengapa harus kamu orangnya. Bahkan jika harus khawatir, aku akan mengkhawatirkan diriku apakah ia trauma untuk jatuh cinta lagi.


Bahwa jatuh cinta telah menempaku menjadi tegar menghadapi hari-hari yang makin sulit. Untuk keserasian yang makin jauh, aku tetap memastikan diriku baik-baik saja. Ia hanya butuh rehat barang sementara waktu.


-Ikrom Mustofa-