15/10/18

Barangkali..


Barangkali kamu adalah laut yang memilih biru
Dan aku ialah angin yang menderu ombak

Barangkali langit adalah doa-doa
Dan kita ialah bumi, rumah segala diksi

Andai kosakata memilih pergi
Tetaplah bersamaku di sini



Belanda, Oktober 2018
Ikrom Mustofa


03/10/18

Harapan dan Putus Asa


Apakah batas antara berharap dan putus asa itu ada?

Aku kemudian bertanya pada diri sendiri. Mengamati sisi-sisi gelap kota ini. Berjalan tanpa arah. Membelah malam, menyingkap kegelapan. Merenung pada titik paling memilukan.

Mungkin, berharap dan putus asa itu ikut mengalir dalam darah. Dua hal yang tak mampu dipisahkan. Dalam kondisimu yang tengah berharap, ada putus asa di sana. Dan dalam keadaanmu yang tengah berputus asa, ada setitik harapan di sana. Manusiawi sekali. Selalu ada hitam putihnya. Khilaf selalu menawarkan sebuah kata maaf, bukan?

Apakah batas antara rindu dan benci itu ada?

Aku kemudian melihat pada diriku sendiri. Menyusuri setiap bilik perasaan ini. Kemudian mengingatmu sejenak. Tak dapat dimungkiri, aku merindukanmu. Bahkan sangat merindumu. Setiap hal tentangmu membuatku rindu. Namun aku juga benci kamu saat ini. Aku benci dari caramu memperlakukanku. Membuatku kecewa berkepanjangan. Membuatku semakin berharap dalam ketidakpastian.

Bagiku saat ini, aku bahkan tak menemui batas antara rindu dan benci. Ia beriringan, berpapasan, kadang saling tumpang tindih. Seperti ketika aku mengingatmu, kemudian rindu hadir tiba-tiba, beberapa saat setelah itu timbul benci padamu. Kamu orang yang telah berhasil menghadirkan rasa rindu dan benci jadi bersahabat. Saat ini.


#DalamSketsa
-Ikrom Mustofa-


17/09/18

Sampai Kapan-pun


Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merasa pantas—meski perasaan ini ingin usai lekas. Kita punya batas; dinding tebal yang dingin dan bisu. Aku tahu betul, tak sekali pun kamu akan membuka ruang merindu karena pilihanmu bukan aku. Semoga kamu mengerti, memperbaiki diri bukan proses sendiri. Tetapi, bersama—semoga kamu tidak menyesal ketika aku pergi.
Lalu pernahkah kamu membayangkan bagaimana mengubah nanar menjadi tegar? Mengubah sepotong hati yang mengandung perasaan pada seseorang jadi sebuah kekuatan baru. Menghilangkan ketakutan, termasuk akan hal-hal terburuk seperti perpisahan. Menjauhkan segala prasangka, pada tatap mata yang tetap memilih baik-baik saja. Menjadi lebih hati-hati, dalam menyikapi hari-hari yang makin pasi.  Dan aku melakukannya kali ini. Pada ke sekian kalinya ketika aku sadar bahwa berharap terlalu dalam harus rela bernasib kelam. Pada pertahanan paling menyesakkan ketika membebaskan perasaan pada seseorang mau tak mau juga harus berani mengikhlaskan.
Sungguh, aku tidak ingin dingin yang memeluk kesendirian ini menguat, hingga akhirnya kita sudah terlalu beku untuk memahami arti mencintai itu lagi. Bila saja kamu memahami bahwa begitu besar aku memperjuangkan hingga tetiap sitatap yang labuh padamu hanya menikamku kembali—memenjarakanku di balik jeruji ketidakpantasan itu.
Namun, barangkali kamu dan juga aku harus sama-sama mengerti. 
Bukankah setiap orang punya perasaan dengan haknya masing-masing? Kamu tak boleh memaksanya sedikit pun. Termasuk aku yang tak pernah mau lagi memintamu suka. Namun aku tetap mendoakan yang terbaik. Untukmu.
---------------------------------------------------------
Kolaborasi karya,
Ariqy Raihan & Ikrom Mustofa

25/08/18

Memulai Hari-hari Baru



Aku memulainya sendiri. Meyakinkan pada diriku bahwa hidup harus tetap berjalan bagaimanapun keadaannya. Hari-hari yang baru telah kudefinisikan sendiri. Ia tumbuh perlahan bersama keputusanku untuk melupakanmu. Hidup tak selamanya tentang kamu. Masa depan tak hanya sebatas aku yang menaruh perasaan padamu. Masa depan tak selamanya tentang aku yang harus berlama-lama menunggu keputusanmu tentang hubungan kemarin yang harus dibawa ke mana, dilanjutkan atau dicukupkan saja. Bahkan masa depan masih tetap milikku saat aku tak lagi punya harapan untuk hidup bersamamu.

Sekarang, semua hampir normal seperti sedia kala. Apabila beberapa orang terdekatku bertanya tentangmu, tentang kabarmu, atau malah tentang hubungan kita padaku, perlahan-lahan aku telah mampu menjelaskan semuanya kepada mereka. Jika awal-awal perpisahan itu menyisakan aku yang takut bertemu banyak orang, sekarang aku menyadari bahwa mungkin dari mereka aku menemui hal-hal baru, bahkan pencerahan dari semua masalah ini. Jika awal-awal perpisahan denganmu menyisakan depresi yang mendalam, sekarang aku mencukupkan diri bahwa hidup tak sekadar pencitraan di depan gambar-gambar fana, atau bahkan media sosial milikmu sekalipun.

Hidup ialah perjalanan penghambaan kita pada-Nya.

Bukankah semua orang berhak untuk berubah? Bila diperbolehkan, menurutku berubah ialah hak asasi manusia. Tak seorang pun mampu melarang. Tak seorang pun mampu memberi perintah. Hanya ikatan antara manusia dan Tuhan yang pada akhirnya akan mengarahkan perubahan itu sendiri.

Narapidana yang keluar dari penjara tentu berhak untuk berubah menjadi seorang yang insaf. Seorang yang tak lagi melakukan kesalahan serupa di kemudian hari. Ia menjalani hidup baru. Lebih agamis. Lebih sederhana. Lebih dekat dengan Tuhan-Nya.

Seorang yang pernah mengalami mati suri berhak untuk menangisi apa-apa yang sudah terjadi. Pada dirinya. Pada keluarganya. Pada semua hal yang telah melekat pada namanya. Siapa pun dia, ia berhak untuk melanjutkan kehidupan barunya. Menjadi lebih baik, sebab ia jauh lebih beruntung ditunjukkan kehidupan selepas kehidupan fana ini lebih dahulu. Ia telah merasakan. Apa-apa yang ia lakukan sekarang di kehidupan barunya mungkin saja akan lebih berasa maknanya dibandingkan kita yang belum pernah melihat segala rupa kehidupan setelah dunia fana ini.

Apakah kita harus menemui kegagalan, menjumpai kesalahan, atau menyaksikan segala balasan dari apa-apa yang kita lakukan sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik?

Hingga akhirnya, lagi-lagi aku harus banyak bersyukur. Kegagalan denganmu telah mengajarkanku untuk lebih sadar diri. Menyadari apa-apa yang sudah seharusnya dijalani, dan apa yang harus ditinggalkan. Menyadari bahwa jalan masih panjang di depan sana. Benar, sekali lagi tak semua kata berubah lahir dari kegagalan- kegagalan yang pernah kita alami. Namun setidaknya, kegagalan selalu menyadarkanku bahwa berubah itu adalah sebuah keniscayaan.

Aku percaya, tak ada yang mudah untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, ada yang lebih payah dari hidup ini. Ialah ketika kita tahu bahwa jalan yang kita tempuh sudah tak baik, namun kita enggan segera beranjak pergi. Ialah ketika kita tahu bahwa berubah adalah keputusan yang paling tepat, namun kita tak segera mau melakukannya.

Dan pelan-pelan, aku tengah merapal tabah dengan perubahan yang sedang kujalani.


Belanda, 2018. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...