13/07/20

Masa Depan



Nanti, rumah itu akan kita bangun. Dinding yang tak hanya batu dan kayu-kayu, namun iman agar kita berdua selalu diberikan kekuatan dan ketabahan. Atap yang tak hanya peneduh dari segala hujan, namun juga hati kita agar senantiasa berkah.

Nanti, impian itu akan sama-sama kita bangun. Memeluk yang ada erat-erat, mencari yang tiada, gagal kita rasakan berdua, cerita dan kenangan kita nikmati bersama. Nanti, impian itu akan jadi cara kita bicara. Memandang matamu yang berbinar-binar, mendukung apapun keputusan kita. Walau terdengar mustahil, namun kamu selalu meyakinkan.

Kita menua bersama. Hari-hari ke depan adalah tugas berdua yang tak ada lagi masing-masing, kecuali bersama, dalam keadaan apapun. Kalau boleh aku memilih, ke depan tak ada lagi jarak, baik fisik maupun perasaan. Kita jalan bersama. Kita di kota yang sama. Kita menyambut pagi maupun senja pada waktu dan udara yang sama.

Untuk itu, temani langkah kaki ini. Sebab aku tak mampu kalau harus berjalan sendiri.


-Ikrom Mustofa- 

08/07/20

Debu



Mengharapkanmu atau mengikhlaskanmu?

Sejak mengenalmu, mengetahui segala hal tentang dirimu, aku mulai membuat semacam peluang keberhasilan versi manusia. Segala macam sudut pandang tentangmu telah kupertimbangkan baik-baik. Untuk kemudian makin bersemangat memperjuangkanmu, atau harus perlahan mengikhlaskanmu.
Namun sampai sejauh ini, aku tak lagi bersikeras dengan perasaanku sendiri. Bukan soal pasrah, apalagi menyerah. Namun aku sadar, bahwa perasaan memang mau tak mau harus tepat pada tempatnya. Terlebih, sekarang aku memulai untuk sadar, bahwa memaksamu suka adalah sia-sia. Walaupun, diam-diam dalam doa aku selalu menyisihkan waktu beberapa puluh detik untuk memintamu, memintamu lebih cair, lebih peka, dan lebih punya rasa. Padaku.



-Ikrom Mustofa

06/07/20

Hadiah Masa Depan



Perkenalkan, masa depan ialah kumpulan benda-benda murah aneka warna semacam tas, arloji, kacamata, dan sejenisnya yang membuatmu teramat bangga memakainya. Apalagi kalau bukan hadiah momen-momen istimewa dari seorang terbaikmu. Bahkan ketika harus malu-malu memberikannya. Atau sering kali memilih untuk meletakkannya di ujung ranjang dengan secarik kertas surat di atasnya. Sesederhana itu. semoga.

Perkenalkan, masa depan adalah kamu yang tak pernah bosan meneguk teh dengan rasa serupa setiap harinya denganku. Menelponku dengan pertanyaan yang telah hapal di luar kepala. Menanyakan keadaanku. Masa depan adalah buku-buku favorit yang kita baca bersama. Sampai-sampai kita hapal mati kutipan-kutipan favorit di dalamnya. Membeli makanan satu porsi untuk berdua, selain hemat, suasananya akan jauh lebih manis dan romantis.

Masa depan itu telah ada di depan mata. Bersamamu, kuyakin ada banyak kesempatan untuk sama-sama kita perjuangkan.

-Ikrom Mustofa-

05/07/20

Metafora



Aku semakin tak peduli. Bahwa kata orang pemisah kita sudah semakin nyata. Banyak alasan yang mudah sekali dilontarkan oleh siapapun untuk hubungan kita yang tak mungkin diteruskan juga. Kamu nyaris kehilangan kuasa untuk bertahan pada segala apa yang kita jaga. Sedang aku masih berjuang, sayangnya hampir putus asa.

Kata mereka, kita adalah dua benda yang jauh. Baik jarak fisik, maupun perasaan. Bahkan, kita terlahir dalam diorama yang berbeda. Kamu dengan segala hingar-bingar ruang dan waktumu sendiri, dan aku juga dengan ruangan sesak dalam sudut pandang yang lain pula. Tepatnya, kita adalah dua makhluk hidup yang sudah sangat cukup untuk hanya saling mengenal, tanpa harus saling tahu lebih dalam lagi.

Sebab sia-sia. Hanya menambah kenangan sesak dan menyiksa sepanjang usia. Hanya menambah daftar panjang orang-orang baik yang sama-sama kita kenal, kemudian tiba-tiba pergi karena tak ada alasan lagi untuk menetap.

Namun satu yang berhasil kupahami, keajaiban itu selalu ada. Untuk keputusan Tuhan, ukuran peluang bisa saja berkata sebaliknya.

Usaha saja. Semampu kita.


-Ikrom Mustofa-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...