• Pre-Order 2 Sebuah Warna, Periode 7-30 September 2014.

  • Pre-Order 2 Sebuah Warna, Periode 7-30 September 2014.

  • Jepang, Berfoto bersama bapak Rektor IPB dalam rangkaian kegiatan SUIJI-SLP 2013, Ehime, Matsuyama.

  • Klaten, dalam rangkaian kegiatan IPB Goes To Field.

  • Malaysia, pengalaman tak terlupakan bersama sahabat baru "Youth Be Aware" at Melaka.

  • Malaysia, "Youth Be Aware" serunya sahabat baru di Malaysia. Keren :)

05/03/17

Posted by Ikrom Mustofa
No comments | 23.03


Apa definisi kehilangan buatmu?

Kehilanganmu. Aku bahkan tak pernah membayangkan satu kata itu bertengger manis pada ubun-ubun. Aku belum berpikir sejauh itu, andai saja harus kehilangan dirimu. Harus puasa berkomunikasi denganmu saja rasanya sesak dan tersiksa, apalagi harus kehilanganmu?

Bukankah pertemuan selalu ada masa berpisah. Dan malangnya, dalam perpisahan selalu saja ada yang hilang. Baik banyak atau hanya sekelumit saja. Baik yang tampak oleh fisik, atau yang ada di dalam dada.

Dan aku menyadari. Tak ada rindu bila tak ada temu yang kemudian berpisah sendu. Tak ada rasanya kehilangan bila tak ada perpisahan.

Apakah kehilangan selalu menjemukan? Atau adakah kehilangan yang baik? Semisal kehilangan yang melegakan. Kemudian diam-diam saling mendoakan. Kemudian diam-diam saling mengikhlaskan apapun yang terjadi nantinya.

Dulu kamu pernah berkata bahwa kehilangan tak selamanya menyakitkan. Pada satu kesempatan, kehilangan ialah baik. Ia yang kemudian menciptakan jarak untuk tetap terhubung dalam doa. Ia kemudian memaksamu untuk mencipta mimpi-mimpi jadi kenyataan, yang pada akhirnya memintamu berikhtiar sekali lagi untuk kemudian menemukannya.

Inikah kehilangan yang kuingini?

Berkali-kali aku merutuki diri ini, apakah kehilangan ini harus aku sendiri yang merasakan? Mengapa tak mereka saja yang sudah kuat dan siap. Aku lemah soal ini. Menumbuhkan perasaan saja sangat sulit. Menyimpannya juga perlu ikhtiar tersendiri. Apalagi harus kehilangan.

Baiklah, katamu lagi ini kehilangan yang baik. Tolong jelaskan padaku, kehilangan yang seperti apalagi? Aku tak setuju kalau kehilangan di antara kita ialah baik. Walaupun pada pemahamanku yang lain, kehilangan adalah proses dan takdir dari-Nya. Namun aku tak ingin ini juga terjadi pada kita.

Kalaupun kamu tak mau menjelaskan, aku yang akan tetap mendefinisikan penjelasanmu pada akhirnya. Lewat responmu selama ini. Lewat ketidakpekaanmu. Lewat kamu yang makin menjauh tanpa sebab yang jelas.


Jadi apakah kehilangan di antara kita ini bagimu masih tetap baik?


-Dalam Sketsa-


01/03/17

Posted by Ikrom Mustofa
No comments | 03.32


Jujur, sejak jatuh cinta melandaku, aku jadi berubah. Jatuh cinta yang melemahkan sekaligus menguatkan. Dua kata kerja yang berseberangan bahkan bisa disatukan oleh frase bernama jatuh cinta.

Aku mencintaimu, sungguh. Apa yang indah dari jatuh cinta kepadamu? Adalah ketika senyummu menyetujui perihal perasaanku yang akan bebas bertengger di semenanjung dadamu. Kemudian kamu yang memperbolehkan hati ini berteman dekat dengan hatimu. Indah bukan?

Tanpamu apalah arti keberadaanku. Aku tahu, ini berlebihan. namun sekali lagi kusampaikan. Begitulah rasanya. Pahit yang terasa madu, getir yang candu, bahkan aku merasakan letih yang selalu mau lagi dan lagi. Jatuh cinta padamu membuatku bekerja dua kali pada satu aktivitas yang kulakukan. Pertama untuk benar-benar mengerjakan, kedua untuk memastikan kembali bahwa ini akan terlihat baik di matamu. Benarkah?

Benarkah jatuh cinta hampir selalu keluar dari jalur-jalur keserasian. Aku tak pernah selalu membenarkan. Namun ini terjadi pada kronologi jatuh cinta yang kualami. Ia benar-benar anomali yang menyesakkan. Berseberangan dari indeks kebahagiaan. Bahkan suatu ketika aku pernah berada pada kondisi paling ragu untuk meyakinkan benarkah ini jatuh cinta atau luka belaka. Namun sampai pada pertahananku yang semakin dalam, aku yakini bahwa ini cinta. Ini jatuh cinta. Bukan ia yang salah, hanya terkadang aku kurang sabar menapaki pendakian-pendakian ini.

Pada satu kondisi, jatuh cinta menjadikanku paling khawatir. Jika aku terpisah darimu, maka aku juga akan terpisah dari diriku. Aku bukan siapa-siapa tanpa dirimu. Pada kondisi lain, aku hanya ingin serius mencintaimu, bukan mengkhawatirkanmu berlebihan. Sebab mengkhawatirkanmu ialah masa sulit pada hari-hari yang juga makin pelik. Namun sayangnya jatuh cinta dan kekhawatiran mirip sekali dengan dua sisi mata uang. Aku mencintaimu, berarti aku siap untuk mengkhawatirkanmu.

Aku bukan siapa-siapa tanpa dirimu. Jika pada akhirnya kita tak bersama, jujur, aku belum menyusun satu siasatpun untuk melanjutkan kehidupan ini. Jika pada akhirnya kita harus berpisah untuk kebaikan-kebaikan, aku mencoba ikhlas. Namun sekali lagi, aku belum tahu harus ke mana, dengan siapa yang lain, dan apa-apa yang harus kulakukan.

Ada hampa di sana. Yang kurasakan, jatuh cinta telah membuatku menemukan cara melawan hampa. Ia mungkin tak jujur pada kata-kata, namun jatuh cinta selalu hidup pada bahasa tubuh yang sering mendadak salah tingkah, pandangan mata yang tiba-tiba jadi pemalu, dan hati yang selalu bergemuruh tak menentu.

Ada jatuh cinta di sana. Denganmu. 


-Dalam Sketsa-

23/02/17

Posted by Ikrom Mustofa
No comments | 00.25


Apakah hujan selalu menentramkan? Menjadikan hati lebih baik-baik saja. Dada yang gemuruh oleh resah tiba-tiba jadi menerima tanpa syarat untuk segenap luka yang menganga. Hujan hampir selalu jadi obat bius luka perasaan yang kadang memar, kadang berdarah. Rintiknya melegakan, basahnya juga merasuk sukma-sukma yang sedang kosong pada jiwa-jiwa yang tengah berharap pada kondisi yang tak pernah ada usainya. Lalu, apakah hujan selalu menentramkan?

Apakah hujan selalu membuka kenangan-kenangan? Butiran-butirannya mirip memori penyimpanan berkapasitas besar. Hujan hari ini mampu merekam apa-apa yang ada pada hari ini, dan hujan-hujan lain suatu saat nanti yang akan memberitahumu kenangan hari ini. Ketika otak tak mampu menyimpan kenangan, ketika musik klasik tak sepenuhnya mampu membahasakan kenangan, maka hujanlah yang sering bertanggung jawab membuka kenangan-kenangan itu.

Panggil aku si penyuka hujan.

Aku menyukai hujan. Sejak lama. Walaupun aku tak pernah kuat berlama-lama berada di bawah hujan, namun diam-diam aku selalu memperhatikan hujan dari kejauhan. Menyukai tak harus bersama-sama dari dekat bukan? Dan aku menyukai hujan dari caranya. Caranya ia turun, caranya ia jatuh, dan caranya ia bermuara. Aku bahkan begitu mengagumi hujan dari caranya ia membuka banyak sekali ingatan lewat butir-butir airnya. Dan aku menikmatinya.

Waktu aku masih kecil, aku diajarkan untuk mempercayai bahwa hujan ialah rahmat dari-Nya. Sampai sekarang, bahkan ketika bukti-bukti itu semakin menguat dengan kajian ilmiah tentang hujan. Aku belajar banyak tentang jenis-jenis hujan. Padahal yang hanya ingin kutahu, hujan hanya satu macam, ialah hujan manis nan romantis. Itu saja.

Namun akhir-akhir ini, kalau kamu ingin tahu, aku tak begitu suka hujan. Padahal biasanya aku selalu memasang muka di tepian jendela yang sesekali disibak oleh gorden ketika hujan turun. Padahal aku yang biasanya berlama-lama berada di halte pusat kota untuk lebih leluasa menyaksikan hujan yang bebas jatuh pada aspal-aspal jalan.

Bisakah hujan melukai? Apakah jatuhnya tak selalu romantis? Apakah dalam satu waktu hujan selalu menyisakan duka mendalam?

Pertanyaan tentang hujan seketika bertabrakan dengan pertanyaanku tentangmu. Kemudian mereka menciptakan semacam bom atom yang siap meledak kapan saja. Menghunus pertahanan dengan pertanyaan menyudutkan terasa amat payah bagi seorang lelaki sepertiku, namun aku tak tahu bagaimana pendapatmu tentang hal ini. Bukankah perempuan punya banyak sekali cara untuk menjawab? Seperti hujan yang selalu punya cara membuka ingatan-ingatan pada manusia yang berbeda-beda.

Kali ini, jika hujan turun. Aku harus bersiap membuka ingatan-ingatan perih itu. Kenangan pahit yang masih hangat kurasakan bersamamu. Kalaupun aku alihkan pada ingatan lain yang harusnya menenangkan dan menyenangkan, pada akhirnya aku akan kembali terbawa pada ingatan tentangmu.
Kali ini, jika hujan turun. Tiba-tiba aku jadi manusia penakut. Pernahkah kamu mengkhawatirkan seseorang pada titik paling nadir? Ia tidak hanya jauh, namun ia berubah. Begitulah rasanya sekarang saat aku bertemu hujan-hujan ini. Hujan yang makin sering jatuh. Makin liar bersama ingatan yang makin menganga. Dan aku makin kerap menjumpainya.

Pada titik ini, aku kehilangan akal untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu tengah baik-baik saja di sana. Prasangka baikku tiba-tiba menguap. Seperti debu-debu yang harus lenyap saat hujan menerpa tanah-tanah kering. Tinggal yang tersisa adalah prasangka tak baik. Tentangmu.

Dan aku makin mengkhawatirkanmu.

-Dalam Sketsa-