24/12/12

"GFM, Genteng, Resleting, dan Bawang Putih"


“jangan berbicara makna kebersamaan, selama itu masih sebatas subyektivitas semata, karena hidup itu sosial, maknai setiap kata hati mereka, coba berempati, dan rasakan “feed back” nya”
Kemarin pagi kira-kira beriringan dengan surya yang menyingsing, tepat tanggal 23 Desember 2012, kami mahasiswa departemen GFM 48 berbondong-bondong dengan dresscode lapang menuju lokasi departemen untuk mengikuti rangkaian Outbound GFM 48. “salam badai” kata-kata itu cukup memotivasi setiap peserta outbound pagi itu. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh kakak 47 yang juga merangkap sebagai panitia outbound ini, kemudian kami melanjutkan kegiatan dengan mobilisasi ke lokasi outbound setelah sarapan nasi uduk bareng terlebih dahulu. Ekstrim? Menantang? Atau hanya sebatas outbound ‘ecek-ecek’? wah, waktu itu kami sama sekali gak tau medan outbound seperti apa, bahkan rangkaian outboundnya saja kami gak tau sama sekali.
Well, akhirnya petualangan pun dimulai. Sekitar pukul tujuh pagi, kami telah dibagi menjadi lima kelompok outbound dengan lima pos yang telah disediakan. Untuk menuju ke pos pertama, kami harus menyusuri hutan dengan medan yang becek selepas hujan deras yang mengguyur Bogor tadi malam. Tidak hanya itu, rute menuju pos pertama dibuat sesulit mungkin, hingga banyak teman-teman putri mengalami kendala dalam melewati jalan setapak itu. Namun setidaknya, jalan yang teramat sulit itu telah menjadi prolog buat kami untuk lebih mengompakkan diri, saling membantu, dan yang terpenting telah menguapkan rasa ego masing-masing. Alhasil ketika hampir mencapai pos satu, badan, baju, sepatu, bahkan muka kami telah berhasil berkolaborasi sempurna dengan lumpur. Wuih, kesan awal yang sulit dilupakan.
Ok, sampai juga di pos pertama. Hmm. Kalau tidak salah namanya pos bambu karena memang berada di bawah kanopi bambu yang sejuknya gak main-main. Di sana, kami telah disuguhi permainan menarik. Ya, sebuah permainan dengan anggota empat orang dan bertugas untuk mempertahankan bola tenis meja agar tetap seimbang di atas serpihan bambu. Intinya sebuah permainan untuk melatih kebersamaan, team work, dan strategi. Permainan berlangsung sekitar satu jam, dan kemudian berlanjut ke pos dua di area perkebunan bambu.
Berbeda dengan pos pertama yang penuh canda dan tawa, pos kedua ini agaknya lebih menantang lagi. Dengan dukungan pohon-pohon durian yang menjulang tinggi, jadilah pos kedua ini dengan nama pos mental. Kebersamaan hingga maknanya, kerja sama dan bentuknya, bahkan kepribadian teman dari kelakuan, sikap dan penampilannya diuji habis-habisan di pos ini. pos terlama menurutku, karena harus diisi dengan berbagai ‘kegalauan’ masing-masing tim untuk mengambil sebuah keputusan, kemudian harus ada sesi memecahkan genteng di kepala sebagai wujud kebersamaan itu seperti apa dan sesi sujud syukur yang memang benar-benar membuat diri ini bersyukur akan nyamannya ketika dalam posisi berdiri berdiri dari apa yang kami lakukan waktu itu.
Pos kedua cukup membangkitkan adrenalin, namun berefek pada hilangnya stamina yang kami punya. Semangat? Ya, waktu itu semangat masih melekat sempurna pada masing-masing kami. ok, Lalu perjalanan berlanjut ke pos ketiga yang lokasinya berjauhan dengan pos sebelumnya. Pos ketiga ini adalah pos alumni dan lebih ‘knowledge’ banget dari pos sebelumnya. Pos ini diisi dengan kuis menjawab pertanyaan yang mengharuskan peserta untuk masuk ke kolam dan mengambil jawabannya di sana. Jawaban pertanyaan tersebut ditulis di kertas yang sudah dimasukkan di dalam botol aqua dan di luar botol tersebut juga dituliskan huruf pertama dari jawaban pertanyaannya. Pertanyaannya beragam, mulai dari yang ilmiah seperti pengetahuan akan awan cirrus, hingga yang neko-neko seperti pengetahuan tentang nenek gayung. Wuih, kompetitif sekali waktu itu hingga tak sadar lagi kalau sekujur badan sudah basah oleh air kolam. Selepas itu, kami menyempatkan diri untuk sharing-sharing dengan alumni yang sudah banyak makan asam garam dalam menapak jejak di GFM ini. sekarang? Jangan tanya lagi, hangatnya berita yang menyatakan bahwa masa tunggu untuk lapangan pekerjaan bagi lulusan GFM yang tidak kurang dari tiga bulan terbukti pada mereka yang sudah berkerja di berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta. Ada yang aktif di Indonesia mengajar, BMKG, KLH, CIFOR, dan lain-lain. Tak terasa sudah satu jam lebih sharing-sharing tersebut, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali menuju pos empat.
Pos empat ternyata lebih ekstrim lagi. Hadirnya beberapa alumni membuat pos ini makin penuh warna. Mental kembali diuji, komitmen di GFM kembali dipertanyakan di sini dan kebersamaan kami juga mulai diluruskan di pos ini. melalui serangkaian kegiatan seperti menujuk teman yang paling dikenal hingga yang paling tidak disuka. Ya, walaupun awalnya agak frontal namun setidaknya ini dapat dijadikan ladang intropeksi. Hmm, beranalogi sesaat akan resleting celana kawan yang terbuka. Mungkin bagi kita akan terasa amat canggung untuk memberitahu hal itu kepadanya, bahkan kita takut akan menyinggung perasaannya. Namun sisi positifnya akan lebih besar lagi, hmm, teman-teman pasti sudah tau. Ok, pos keempat diakhiri dengan makan bawang putih mentah yang berefek bau mulut sepanjang perjalanan ke pos terakhir.
Pos kelima kembali lagi di sekitar Al-Hurriyah. Pos bersih-bersih namanya. Sekaligus pos untuk ishoma karena setelah itu kita akan rehat sebentar hingga nanti malam untuk kembali dengan pesta inagurasi.
Aku yakin, GFM memang penuh warna, namun bukankah kumpulan warna itu akan mencipta pelangi yang indah, lukisan yang berestetika, atau apapun itu. Hidup GFM 48, Hidup atmosfer, hidup meteorologi Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...