20/08/12

Album Kenangan di Suasana Fitri

“maha suci Allah yang telah mencipta makhluknya, hingga hidup saling berpasang-pasangan, saling bersaudara hingga tertuang kesan dalam ukhuwah, saling mengenal satu sama lain hingga terhimpun kenangan indah tanpa celah, Insyaallah”
Kalau berani ditanya benda apa yang sangat berkesan ketika hendak mengulang kenangan indah beberapa tahun silam, tentu saja aku akan menjawab benda itu adalah “album kenangan”. Melalui sebuah benda yang tidak terlalu mahal harganya itu dan terkadang tidak kita hiraukan keberadaannya, sesungguhnya telah menyimpan kenangan yang mahal bagi siapapun.  Sengaja berbicara sejenak tentang “album kenangan” karena ada suatu hal yang mengingatkanku akan benda itu lagi.
Senja itu. Hmm, tepatnya senja yang kelewat malam, dan bertepatan pula dengan suasana “lebaran” hari pertama. Aku menyempatkan diri untuk bertemu  dan bersilaturahmi dengan teman sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar dulu, hingga menyempatkan diri pula untuk berkunjung bersama mereka ke rumah guru-guru kami. Sebut saja beberapa temanku itu hasrul, seorang calon “bintara” (insyaallah, baarakallah yaa), kemudian ada Slamet, seorang pekerja keras yang berbadan gimbal, Ayu Lestari, dulu sewaktu kecil hobi mencubit teman namun sekarang feminin abis, dan Apriyadi, cowok bersuara serak yang sedang kuliah di Jogja.
Pertemuanku dengan mereka diawali di rumah salah seorang guru kami. Sebut saja beliau “Ibu Sungkem”. Sebuah nama yang menurutku sesuai dengan sifatnya yang pemaaf (sungkem= minta maaf. Jawa*). Di sana kami disuguhi dengan hidangan khas lebaran, sama seperti di rumah-rumah lain kala suasana lebaran menjelang. Awalnya kami saling mencurahkan kesan pribadi masing-masing selama beberapa tahun terakhir tentang karir, kuliah, dan kegiatan rutinitas. Kemudian dilanjutkan dengan mengulang memori delapan tahun silam, mengulang kebersamaan di sana bersama 42 siswa SD angkatanku. Aku dan beberapa temanku itu hanya dapat mengulang kembali beberapa memori masa silam itu. Selebihnya mungkin sudah terbuang dari “hipotalamus” ini.
Hingga akhirnya, terbersit niatan oleh ibu guru kami yang sungguh berjiwa keibuan itu untuk menunjukkan album kenangan miliknya yang di dalamnya berisi foto-foto kami saat itu. Ia pun beranjak berdiri, dan beberapa saat kemudian ia telah datang kepada kami dengan “album kenangan” di tangannya. Dengan begitu antusias, kami pun segera berebut untuk melihat lagi kenangan masa lalu yang tertuang dengan gamblang di dalam beberapa album foto warna krem sejuk itu. Dimulai dengan halaman pertama, suasana gelak tawa pun tercipta serentak. “ini slamet bukan, kok beda sekarang ya?” sela salah satu temanku. “hei, dari dulu aku tetap saja hitam” slamet mengakui juga. Dan banyak lagi celoteh di sela-sela pemandangan foto kami yang masih lugu itu. Hmm, baru satu halaman ya, nggak nyangka kelamaan bukanya. Kemudian dilanjutkan halaman berikutnya dan berikutnya. Kadang gelak tawa tercipta, namun terkadang haru itu berkelabut dalam canda kami. Hingga akhirnya kami berhasil mengingat seluruh anggota angkatan kami melalui “album kenangan” itu. Kami berhasil mengenali mereka, berhasil menyebutkan status mereka, apakah masih kuliah, sudah kerja, belum menikah, sudah menikah, hingga yang telah memiliki anak sekalipun. Lengkap sudah memori kenangan malam itu.
Hmm, tak terasa ternyata sudah satu jam lebih kami berada di rumah Ibu guru penuh petuah itu. Akhirnya kami mohon diri untuk melanjutkan aksi silaturahim di suasana lebaran yang penuh berkah itu.
*Tulisan ini sengaja ku dedikasikan buat 41 sahabat seangkatan di SDN 010 Silikuan Hulu. Semoga kalian masih tetap ingat dengan kebersamaan dan kenangan masa kecil kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...