30/01/17

Atas Nama Perasaan yang kadang Tak Tahu Diri



Lelaki perasa yang bertemu dengan perempuan tak peka adalah bisu yang sering tak mau tahu.

Atas nama perasaan. Ada beberapa kejadian yang selalu payah dalam kehidupan. Salah satunya adalah perasaan yang kerap tak mau tahu.

Awalnya bisu, tak berasa terjadi apa-apa. Awalnya biasa, tak pernah menyangka sejauh ini jadinya. Namun tiba-tiba satu di antara kita lebih dulu menyadari bahwa ada sesuatu yang memaksa tumbuh dari dalam hati. Kemudian satu lainnya mengamini. Ialah tumbuhan bernama perasaan. Menghipnotis kita lewat kemauannya yang sulit sekali dibendung bahkan dikendalikan. Meminta kita untuk selalu dekat. Tumbuh tak mengenal tanahnya, di mana saja dengan hanya berbekal kenyamanan.

Jika muncul pertanyaan mengapa ia bisa tumbuh, perasaan selalu saja tak memiliki alasan bahkan jawaban yang meyakinkan. Ia lahir bersama pertemuan singkat, pandangan pertama, dan mungkin sebagian kecil mengakui bahwa perasaan telah tumbuh bahkan sejak belum ada pertemuan itu sendiri.

Aku juga sama, selalu kehilangan jawaban saat ditanya soal perasaan. Mengapa harus kamu? Kataku di depan cermin waktu itu. Sembari merapikan rambutku yang masih acak-acakan.

Adakah yang berlabuh semena-mena selain kapal bernama perasaan?

Kali ini aku benar-benar mengatakan bahwa perasaan ini tak tahu diri. Berlabuh semena-mena. Bagi kebanyakan orang, aku meletakkan perasaan ini tak pada tempatnya. Harapan yang semu, maya, mungkin tak bisa jadi nyata. Menjatuhkan perasaan padamu tak lebih baik dari sendiri yang menyisakan sepi. Baiklah, aku mengakui, jatuh hati tak dapat dibendung dengan apapun. Ia adalah konsep alamiah dan tentu saja manusiawi. Ia datang tiba-tiba, bahkan saat ketidaksiapan dari diri sendiri menanggung semuanya.

Atas nama perasaan yang kadang tak tahu diri. Benarkah seorang perasa selalu dipertemukan dengan seorang yang tak peka? Apakah Tuhan dengan segala kuasa-Nya yang telah melakukan ini semua? Benarkah ini cara terbaik untuk bersabar sekaligus bersyukur?


Baiklah, pada pertahanan kali ini aku menyiasati untuk berbaik sangka dengan perasaan. Berbaik sangka padamu yang semakin beku. Kata-kata yang urung dibebaskan mungkin suatu saat nanti akan tersampaikan dengan baik. Itu saja.


-Dalam Sketsa-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...