11/07/13

“IGTF- Wisata Budaya, Pertanian, dan Alam”



Rangkaian kegiatan IPB Goes To Field selama 3 Minggu di Klaten mungkin terasa menjemukan bila tidak ada sesi jalan-jalan. Hitung-hitung sebagai upaya menambah pengalaman selama berada di tanah orang. Berawal dari perundingan serta perdebatan sengit dengan tim turun lapang desa Kemudo, Prambanan untuk menentukan destinasi yang cukup menarik dan dengan budget yang tidak terlampau mahal. Ada yang memilih keliling Jogja, ke pantai, dan beberapa memilih menurut dengan suara terbanyak. Aku sendiri memilih ke Dieng, tepatnya dataran tinggi Dieng, karena saat itu sedang dilaksanakan upacara pemotongan rambut gimbal, seru sekali menurutku. Namun aku harus mengalah karena banyak yang tidak setuju ke Dieng dengan alasan budget yang tidak memadai. Akhirnya diputuskan untuk berkeliling Jogja dengan budget yang cukup murah dan dengan beberapa destinasi yang belum pernah ku kunjungi seperti Monumen Jogja kembali (Monjali), Kaliurang, Lereng gunung Merapi, dan Sabila Farm. Awalnya tak begitu tertarik, namun beginilah sebuah pengalaman, selalu saja menciptakan banyak kejutan.

Pagi itu, Minggu 30 Juni 2013, perjalanan dimulai. Dengan menggunakan mobil sewa, kami bertolak dari balai desa Kemudo, Prambanan menuju Jogja. Destinasi pertama adalah monumen Jogja Kembali, setelah melewati beberapa jalan dan gang, akhirnya kami sampai di lokasi. Perasaan tak sabar segera menghinggapi, hingga kami segera bergegas menuju bangunan besar berbentuk kerucut putih itu. Kami pun masuk ke gedung museum, dan melihat begitu banyak peninggalan sejarah yang dideskripsikan dalam patung-patung, gambar, relief, dan tulisan-tulisan. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk mengambil foto di sela-sela kesempatan. Setelah melewatkan waktu selama lebih kurang 3 Jam, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini menuju sebuah kebun buah naga milik alumni IPB yang sudah tak asing lagi di banyak kalangan masyarakat, termasuk kami, civitas IPB sendiri.
Berada di halaman Monumen Jogja Kembali

Sabila Farm, ialah kebun yang dimaksud. Berada di kabupaten Sleman, dan tepat di kaki gunung merapi. Suasana berubah seketika menjadi riuh pepohonan, termasuk perkebunan buah yang terhampar tepat di lereng merapi. Kira-kira ada ratusan pohon buah naga, delima, sarikaya, dan beberapa tanaman pendukung lainnya. Tak lupa kami menyempatkan diri kembali untuk berfoto ria di tengah-tengah kebun. Tepat di dekat sabila farm, kami menyempatkan diri bersilaturahmi ke kerabat salah seorang dari tim. Di sana kami dijamu dengan makanan khas pasca “sadranan” dan makan siang setelahnya. Selepas zuhur, kami meninggalkan lokasi menuju tempat yang lebih mengejutkan lagi. Ah, tak ada yang kurang mengejutkan dari perjalanan kali ini.
Sabila Farm "Agrowisata Hortikultura"

Kaliurang, sebuah dataran tinggi yang dikelilingi oleh bukit-bukit terjal, tepat di kaki Gunung Merapi. Sesampainya kami di sana, segera kami langkahkan kaki menuju air terjun di salah satu tebing yang ternyata tidak ada airnya lagi, hanya tetes-tetes air yang kami jumpai. Ketika melihat sekeliling, daerah ini terkesan kurang terawat pasca letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Kami lebih sering menjumpai abu vulkanik daripada mata air yang katanya sangat sejuk itu. Namun kami masih sempat menyaksikan kawanan monyet bergelantungan di pohon, setidaknya itu masih membuat asri daerah tersebut.
Tepat di bawah Air Terjun Kaliurang

Untuk mengurangi kekecewaan, perjalanan kami lanjutkan ke kaliadem, terletak tepat di kaki gunung Merapi dan tidak terlampau jauh dari Kaliurang. Di sana kami berhenti tepat di kaki gunung dan dengan mudah melihat puncak merapi yang menjulang, dengan pemandangan kawah yang begitu menakjubkan. Kami berjalan mendaki menuju rumah mbah Marijan dan daerah kali yang berupa kumpulan material vulkanik. Kali ini benar-benar mengejutkan, sebuah pemandangan rumah mbah Marijan, berbagai perabotan rumahnya yang masih tersisa, hingga makam mbah Marijan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Tidak hanya itu, sebuah mobil wartawan yang hangus terbakar, beberapa bebatuan sisa letusan, hingga abu-abu vulkanik turut mendukung suasana sore itu. Benar-benar senja yang penuh pelajaran, ialah untuk tetap mensyukuri alam, mensyukuri nikmat, dan mensyukuri kesabaran.
Pendakian singkat menuju lereng Gunung Merapi

Ok, setelah lelah mendaki akhirnya tim kami menuruni lereng merapi dan segera melanjutkan perjalanan kembali menuju tempat yang sudah berkali-kali ku kunjungi, namun tak pernah membosankan. Malioboro, sebuah pusat perbelanjaan, pusat budaya, dan pusat pemerintahan masyarakat Jogja. Kami menyempatkan diri menyusuri koridor panjang malioboro di mana tersusun rapi kreasi batik Jogja mulai dari baju, kaos, souvenir, hingga barang-barang lainnya yang tetap sarat estetika. Setelah lelah berjalan, menawar, dan mengingat waktu telah larut, akhirnya kami beristirahat sejenak di trotoar jalan Malioboro sembari menikmati rasa khas nasi kucing. Sebuah jajanan khas Jogja yang tetap ada di hati banyak kalangan masyarakat.
Kompleks Malioboro

Akhirnya, perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini waktu telah larut, akhirnya kami bersepakat untuk kembali ke Kemudo, Prambanan. Malam itu, berbekal belajaan khas Malioboro, pengalaman baru, dan suasana fikir yang baru.

Bagiku mungkin perjalanan ini biasa-biasa saja, bahkan saat menulis cerita ini juga teramat biasa dan kurang begitu antusias dalam merangkai kata demi kata, namun aku yakin kenangan akan semakin menguat tatkala kita semakin mengingat. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingatnya.

Big Thanks To: Mas Rafi (Captain, Driver, Coordinator), Kak Eka (Tour Guide, UPMers, Traveller), Niha, Tantan, Erika, Amin, Gita, and Karel.



Prambanan, 11 Juli 2013

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...