13/05/12

Arti Hidup...


“berzikirlah untuk mengagumi pesona dunia, dan berzikirlahlah lebih kuat lagi untuk memuji sang arsitek dunia dan seisinya ini” (Mustofa, 2012)
Hidup di dunia tidak lain hanyalah perumpamaan seseorang yang meneguk segelas air di rumah saudagar kaya hingga ia harus melanjutkan perjalanan kembali. Begitulah hidup sebenarnya, kita begitu terpedaya dengan kekayaan saudagar tempat kita meminta minum yang sebenarnya dapat dianalogikan dengan dunia dan seisinya. Harus diakui bahwa saudagar itu memang kaya dengan kesan fisik yang diberikan, namun apakah orang tersebut tahu bahwa tujuan sesungguhnya adalah saudagar yang jauh lebih kaya, bahkan tiada yang menandingi. Kembali menganalogikan dengan kiasan yang jauh lebih sederhana, bahwa tujuan utama kehidupan ini adalah alam akhirat, yang sebenarnya jauh lebih indah dari pesona dunia ini.
Dunia dan keduniaannya, dunia dan bentukan fisiknya, dunia dan pesona makhluknya, dunia dan seni abiotiknya serta dunia dan kekaguman sesaatnya. Semua itu terkadang membutakan mata kita. masalah duniawi terkadang menjadi begitu booming bahkan mengalahkan keberadaan agama. Bentukan lahan yang memiliki berjuta pesona terkadang membuat kita memaksakan diri untuk cinta dunia dengan berlebih-lebihan. seni antropologi membuat mata enggan berkedip, bahkan membuat lupa segalanya. Pesona wanita-wanita era global semakin membuat kaum adam mengakui bahwa mereka benar-benar surga dunia, begitu pula sebaliknya.
Ternyata sebagian insan manusia merasa bahwa dunia adalah kehidupan kekal dan kehidupan yang sebenarnya. Kembali beranalogi kawan, Apakah seseorang yang meminta minum tadi akan berdecak kagum dengan kekayaan saudagar itu? Pasti, ia akan berdecak, bahkan berupaya untuk memiliki hal yang sama. Begitu pula kita, kita dengan segala kesadaran ataupun ketidak sadaran diri, pasti akan berdecak kagum dan mengakui pesona dunia dan seisinya ini. Orang tersebut, ya, ia akan tetap sadar diri bahwa semua kekagumannya itu bukan haknya, ia hanya berhak minum dan kembali melanjutkan perjalanan hingga ke tujuan.
Sahabat, tujuan hidup ini adalah akhirat. Melalui dunia inilah kita diberi kesempatan untuk berladang amal dan memanennya nanti saat di akhirat. Faktanya, Bercocok tanam di ladang tidak sepenuhnya berhasil. Terkadang hama dan penyakit tanaman datang mengganggu hingga tanaman kita rusak dan kemudian mati, akibatnya kita tidak dapat memanennya. Begitu pula dengan seni kehidupan. godaan bertubi-tubi akan datang hingga kita merasa benar-benar lemah dan tidak tahan lagi dengan iman kita. 
Selain itu, apa yang kita panen sangat bergantung pada tanaman apa yang kita tanam. Jika kita menanam singkong, tentu kita nantinya pasti memanen singkong. Jika bunga mawar yang kita semai, maka kita akan menikmati keharuman bunga mawar saat memanen bunganya. Apa yang kita lakukan akan berimbas pada hasilnya. Ibadah, muamalah, syariat, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya akan berbanding lurus dengan pahala dan ganjaran kita nantinya.
Begitulah arti hidup secara sederhana kawan. Mungkin etimologisku tak sesempurna para antropologis sastra dalam memaknai dan mendefinisikan arti kehidupan ini, namun dengan yang kecil ini semoga dapat membantu anda menyelesaikan problema hidup dan menemukan jalan keluar. Ingat, keindahan dunia hanya sementara namun dengan secuil keindahan itu hendaknya semakin membuat kita lebih dekat dengan sang Ilahi. Barakallah.


Bogor, 11 Mei 2012
Ikrom Mustofa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...