17/03/14

"Jodohkan"



Teruntuk Bapak dan Ibu,

Surat ini adalah surat kedua yang ku kirimkan setelah bertahun lamanya aku tak pernah mengirim secarik amplop berisi untaian kata-kata untuk kalian, Bapak, Ibu. Kita lebih sering berjumpa lewat pesan singkat dan suara telepon selular dari kejauhan. Namun hari ini aku ingin lebih lugas mengungkapkan banyak hal yang lebih sulit tersampaikan lewat suara, aku ingin lebih ringan berbicara lewat tulisan ini.

Bapak, Ibu, agaknya hari ini adalah bercabang bagiku. Disatu sisi oleh banyak tuntutan pendidikanku yang semakin mendekati tingkat akhir, di sisi lain aku terus diingatkan oleh keharusan menyempurnakan ibadah, salah satunya menikah. Kalian tentu tahu maksudku. Menikah bagi Bapak ialah tentang pembelajaran menjadi sosok pemimpin tertangguh bagi Ibu, sesuai wejanganmu beberapa bulan yang lalu. Sedangkan bagi Ibu menikah ialah tentang meraih banyak hal yang tak dapat dilakukan sendiri, tentang ibadah tentunya. Lalu menikah bagiku?

Bapak, ibu, sudah berapa banyak buku penuntun menikah yang baik, waktu yang terbaik, usia terbaik, hingga mereka yang terbaik telah ku baca bahkan ku ulang-ulang membacanya. Di sana kutemukan sisi lain dari pernikahan, ialah tentang mempertemukan dan mempererat silaturahim dua keluarga, bukan hanya tentang dua anak manusia. Berapa banyak pula tausyiah pra nikah, seminar pra nikah, bahkan kajian pra nikah yang sudah beberapa kali ku ikuti. Semakin banyak mengikuti, semakin khawatir pula akan pernikahan itu.

Katanya hidup itu pilihan, bukankah memilih untuk dipilihkan juga sebuah pilihan. Sampai hari ini aku masih memantapkan diri untuk belajar dari waktu, banyak tugas yang belum selesai, banyak mimpi yang belum tergapai, dan banyak kebaikan yang belum tertuang dalam sikap. Bapak, Ibu, bukankah semakin baik diri kita, semakin baik pula jodoh kita, ah, aku selalu percaya itu.

Bapak, Ibu, jika lelaki baik itu untuk perempuan yang baik pula, kalian tentu lebih tahu siapa dia. Sebagai lelaki, mudah bagiku menentukan tanpa memikirkan terlebih dahulu, mudah bagiku memilih dia tanpa mempertimbangkan banyak hal. Sedangkan kalian, Bapak, Ibu, mungkin dan semoga kalian lebih mengetahui siapa aku dari pada aku sendiri. Kadang aku lupa jadwal minum obat, kalian yang tekun mengingatkan. Sering pula aku lalai cek kesehatan, kalian pula yang terlebih dahulu mengabarkan. Ah, dari kesehatan saja Bapak lebih tanggap, soal makanan saja Ibu lebih peduli, lalu aku seakan tak sempat menjaga hal-hal kecil itu. 

Bapak, Ibu, terimakasih telah memberiku banyak kebebasan hingga hari ini. Terima kasih telah mengizinkan kemandirian itu tercipta sejak sekolah menengah pertama, menjauhkan si bungsu ini dari rumah. Apa jadinya jika aku masih tetap terkungkung dalam kenyamanan keluarga hingga hari ini. Terima kasih pula telah memberiku banyak kesempatan yang mungkin tak banyak didapat oleh mereka, terima kasih telah menghadirkan kakak-kakak super yang mendidik banyak pelajaran tentang kehidupan. Itu lebih hebat dari sekedar strata satu yang tengah ku tempuh hari ini.

Bukan, ini bukan balas budi. Tak dapat disebut balas budi untuk sekedar permintaan kecil ini. Sebab banyak hal yang telah kalian berikan yang tak mungkin terbalaskan hingga usia dua puluh tahun ini. Bukan, ini bukan juga zaman Siti Nurbaya yang harus terpaksa dinikahkan, semoga ini bukti cinta seorang anak pada kedua orang tuanya, begitu pula sebaliknya. Memilihkan ialah proses memikirkan, kalian tentu memikirkan ini jauh-jauh hari dari sebuah keputusan yang ku tempuh.

Cinta? Cinta ialah tentang menciptakan, bukankah cinta lahir dari kebiasaan, jika kedua insan telah meniatkan yang baik, bukankah akan terlahir cinta diantaranya.

Bapak, Ibu, semoga sudah ada perempuan itu.

Tertanda,

Anakmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...