01/12/13

"Berkas"

Mengumpulkan warna adalah keindahan tersendiri bagi kamu yang mencoba berempati

Mengapa kenangan selalu datang di akhir cerita? Bahkan ketika cerita itu telah selesai. Mengapa kerinduan selalu datang terlambat? Sebenarnya bukan terlambat, namun memang begitulah sebuah kerinduan, selalu mempersilahkan banyak hal mendatangi jiwa-jiwa yang tengah merindu, kemudian ia datang setelah tak ada lagi kamu, kita, atau mereka. Mengapa kamu menyesal? Menyesal telah bertemu? Menyesal telah menyia-nyiakan kebersamaan? Atau menyesal telah memutuskan berpisah? Bukan itu. Kamu menyesal telah meninggalkan namun tanpa sempat membersamai rasa, sebelumnya kamu larut berbicara tanpa tahu isi hatinya, sebelumnya kamu terlalu bebas berargumen tanpa mempersilakan ia mengungkapkan. Kemudian tak ada lagi berkas, hingga kamu begitu menyesali perpisahan.

Maka teruslah menjadi kamu yang tak pernah lupa, kalaupun lupa, kamu telah meyiapkan banyak cara untuk sekedar mengingat. Karena persahabatan tak perlu bebas dideklarasikan, ia hanya perlu dijaga, lalu diingat. Ini bukan hanya soal menuliskan nama sahabat, namun tentang apa yang telah kamu lakukan, apa yang telah aku berikan, dan apa yang telah kita ceritakan. Pertemuan mungkin bisa kita kehendaki dahulu, namun siapa yang bebas menyangka perpisahan, siapa pula yang mutlak menyetujui. Mungkin ada baiknya kita menuliskan banyak hal yang menurutku menginspirasi lewat coretan. Karena apa? Tak banyak sebenarnya, agar aku selalu ingat saat hipotalamusku tak banyak membantu lagi nanti.

Maka teruslah menjadi jiwa-jiwa yang tak lelah menulis. Karena untuk mahir menulis, kamu tak perlu dengan kata-kata romantis atau dengan efek melankolis. Bukan itu, bukan tentang genre yang khas namun ini tentang pesan di dalamnya. Menulislah lewat cerita yang banyak kita sampaikan hingga hari ini. Mungkin bisa jadi ia berupa pelajaran, nasihat, atau tentang percakapan kita yang tak terlupakan. Aku akan lebih senang ketika mampu membeli tulisanmu nanti, atau setidaknya meminjam hingga aku mampu tertawa dan terharu dengan semua itu. Ah, kebersamaan memang tak pernah punya alasan untuk dilupakan.

Maka teruslah menjadi kita dengan waktu yang selalu bermanfaat. Kita menjadi jiwa-jiwa yang selalu berbagi nasihat, menjadi sosok yang mengikrarkan untuk berlomba dalam kebaikan, dan menjadi kita masing-masing dengan kaca mata kisah yang berbeda.
Begitulah, jika kisah ini tak pernah tercipta, mungkin di sini akan ada aku, kita, kamu, atau mereka yang absen setiap harinya. Terima kasih banyak atas waktu yang kita bersamai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...