16/10/13

"Menepati"

Mengapa harus menunggu hujan untuk meluapkan perasaan, menguapkan kekesalan, membebaskan amarah, dan mewariskan gundah.

Kita berjalan di antara rintik yang berdiameter tak lebih dari 2 mm, cukup membasahi dahi namun tak sempat menusuk jemari. Kita berhenti sejenak, lalu aku mengisyaratkanmu untuk membebas dari kerumunan. Kita menepi, sambil sesaat menangkap nikmat-nikmat-Nya. Kerudungmu basah, hampir sempurna. Sedang aku, rambut yang tak begitu lebat sejenak menipis klimis.
Adakah yang lebih lengkap dari senja ini, sebuah perwakilan waktu dari sang pencipta pada hamba yang ingin mengungkapkan banyak kata. Senja dengan rintik, gerimis, namun tak cukup kuat untuk menguapkan banyak prosa dalam raga.
Lalu apa? Kita tak sanggup membebaskan kata. Beginikah hakikat makhluk, selalu kurang mensyukuri. Harusnya tak perlu menunggu senja esok sore untuk sekedar berbagi do’a. Harusnya tak perlu berharap rintik ini lebih lama lagi untuk sekedar menuntaskan emosi jiwa.
Kamu? Perempuan berkerudung abu-abu, lengkap dengan suasana siluet senja, dengan butir air yang sesekali menetes lembut di pelupuk. Tak banyak yang terungkapkan, namun cukup suasana yang menyampaikan kronologi hal ikhwal darimu. Tetap sama, dengan ungkapan dalam diam, dengan warna yang berbeda, dan dengan banyak kekesalan yang masih tetap tersimpan rapi.
Ah, cukuplah. Senja yang begitu indah, hujan yang terkadang sulit ditafsirkan, dan perempuan yang memutuskan untuk menyimpan. Membebaskan perasaan tak pernah menunggu waktu. Setiap garis-garis masa selalu melahirkan do’a-do’a seorang hamba pada khalik-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...